top of page

Bleduran, Permainan Tradisional Betawi di Bulan Ramadan

Awal mula munculnya bleduran terkait pesta rakyat, tetapi ada yang menyebut permainan ini terinspirasi dari meriam di benteng pertahanan Belanda.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Ilustrasi bleduran, permainan tradisional masyarakat Betawi. (Ensiklopedi Jakarta: Culture & Heritage Volume 1).

14 Mar
3 menit membaca

Diperbarui: 18 Mar

ANDILAN bukan satu-satunya tradisi masyarakat Betawi untuk menyambut bulan suci Ramadan dan merayakan Lebaran. Tradisi lain yang masih terus dilestarikan adalah bleduran, sebuah permainan tradisional yang dimainkan oleh anak-anak dan orang dewasa. 


Sejarah kemunculan bleduran memiliki beberapa cerita. Menurut budayawan Betawi, Yahya Andi Saputra, setidaknya ada dua kisah yang diyakini masyarakat sebagai awal mula lahirnya permainan tradisional ini. 


“Salah satu dugaan orang itu sejarah bleduran berkaitan dengan nyanyian rakyat, ‘gamelan jegar jegur’ yang merujuk pada onomatope (kata dari tiruan bunyi). Jadi, dari onomatope itu kemudian orang menafsirkan bahwa di masa lalu permainan ini dimainkan sebagai bagian dari selamatan atau pesta rakyat,” kata Yahya saat ditemui tim Historia.ID di Lembaga Kebudayaan Betawi yang berada di wilayah Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu, 4 Maret 2026.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
transparant.png
bottom of page