top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Kisah Begundal Revolusi Sosial di Langkat

Dua pemimpin revolusi sosial melecehkan keluarga Kesultanan Langkat. Dianggap mencemarkan tujuan revolusi, kedua begundal itu dieksekusi mati.

Oleh :
Historia
13 Mar 2026

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Istana Darussalam di Tanjung Pura, istana utama Kesultanan Langkat, 1930. (KITLV).

  • 3 jam yang lalu
  • 3 menit membaca

KESULTANAN di Sumatra Timur menemui ajal ketika lonceng revolusi sosial berdentang. Sekelompok massa yang menamakan diri volksfront (front rakyat) merangsek masuk ke istana-istana mengobrak-abrik, menghabisi, bahkan melecehkan keluarga kesultanan. Volksfront terdiri dari kumpulan partai-partai dan badan kelaskaran.   


Sejumlah pentolan ditunjuk untuk memimpin revolusi sosial untuk menggulingkan kekuasaan sultan. Tama Ginting dari Partai Nasional Indonesia (PNI) memimpin front rakyat di Tanah Karo. Haris Fadhilah dari Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo) di Asahan. Saragih Ras dari Barisan Harimau Liar di Simalungun. Usman Parinduri dari Partai Komunis Indonesia (PKI) di Langkat. 


“Sekitar pukul empat pagi tanggal 4 Maret [1946], laskar rakyat menyerbu Istana Sultan [Tanjung Pura] dan menurunkan bendera kerajaan yang berwarna kuning menggantikannya dengan sang Dwi Warna. Istana diobrak-abrik. Lemari pakaian Sultan yang panjangnya hampir sepuluh meter diobrak-abrik oleh laskar dan masing-masing mengganti celana goni milik mereka dengan salah satu pakaian sultan,” tutur Bachtiar Siagian dalam memoarnya yang belum diterbitkan. 


Bachtiar Siagian dikenal sebagai sutradara dan penulis skenario yang berafilisasi dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) pada 1960-an. Pada saat terjadi revolusi sosial, dia menjabat sekretaris umum Volksfront Langkat. Dalam memoarnya, Bachtiar berkisah tentang bagaimana ia menyembunyikan Amir Hamzah, keponakan dan menantu Sultan Langkat sekaligus sastrawan-penyair yang karyanya dikagumi Bachtiar. Namun, upaya Bachtiar menyelamatkan Amir Hamzah kandas setelah terjadi peristiwa yang menggegerkan antara pimpinan volksfront dengan keluarga Kesultanan Langkat.  


“Kejadian lain dipicu oleh perlakuan tidak senonoh Ketua Umum Volksfront yang sekaligus Ketua Umum Pesindo, Saudara Usman Parinduri, yang menggagahi putri sultan,” catat Bachtiar seperti disadur ulang Tempo, 15 Februari 2015. 


Menurut sejarawan Anthony Reid dalam The Blood of The People: Revolutions and the End of Traditional Rule in Nortern Sumatra, selain kader PKI, Usman Parinduri adalah mantan anggota Kenkokutai, pasukan cadangan binaan tentara pendudukan Jepang. Bachtiar membenarkan bahwa Usman memang aktif dalam organisasi PKI, sedangkan pekerjaan sehari-harinya sebagai tukang jahit. Usman telah beristri dan mempunyai dua anak. Secara pribadi, Bachtiar mengenang Usman sebagai kawan baik bilamana ia berkunjung ke Tanjung Pura. Itulah sebabnya, Bachtiar terkejut begitu mengetahui Usman melakukan perbuatan tidak senonoh kepada putri Sultan. 


Bachtiar mencari Usman ke Markas Istimewa No. 2L di Simpang Jalan Bengkatan, Kampung Tambung Binjai, tak jauh dari Rumah Sakit Bengkatan. Di sana, dia mendapat laporan dari pengawal bahwa Usman telah berjam-jam “memeriksa” salah satu putri Sultan di salah satu kamar. Apa yang dilakukan Usman telah menyimpang dan mencemarkan tujuan revolusi. Untuk itu, Bachtiar melaporkannya kepada pengurus volksfront yang lain, seperti Haji Abdul Wahab, Alaudin Samah, dan Joembak.  


Agung Meiranda dalam “Sejarah Revolusi Sosial di Langkat Tahun 1946” termuat di jurnal Seuneubok Lada Vol. 8. No. 1, Januari–Juni 2021, menjelaskan, pada 6 Maret 1946, Sultan Langkat Mahmud Abdul Djalil bersama permaisuri Tengku Raudah, dan putra mahkota Tengku Musa diculik. Mereka dibawa ke markas PKI di Kantor Perkebunan Batang Serangan. Selang beberapa hari, keluarga Sultan Langkat dipindahkan ke Berastagi oleh Volksfront Langkat yang di antaranya Amar Hanafiah, Ibnu Jafar, dkk. 


Volksfront Langkat juga ikut mengamankan tokoh-tokoh PKI yang terlibat di dalam kejadian revolusi sosial di Langkat karena telah berusaha mengambil keuntungan pribadi Kesultanan Langkat. Volksfront Langkat mengamankan tokoh seperti Arifin Asneri, Usman Parinduri, Marwan, dan Sanusi,” tulis Agung. 


Budayawan Langkat Zainal Arifin dalam Langkat dalam Sejarah dan Perjuangan Kemerdekaan menyebut Usman Parinduri bersama rekannya Marwan sebagai pelaku pemerkosaan terhadap dua putri Sultan Mahmud. Tengku Zulkifli Kamil, keturunan bangsawan Langkat, mengatakan bahwa Marwan semula menginginkan adik bungsu Sultan, Tengku Maryam. Namun, Sultan tak berkenan. 


“Sultan Langkat, yang diperkosa anaknya, kalau menurut cerita dari uwak-uwak saya, si Marwan itu minta adik Sultan Langkat, Tengku Maryam, yang paling kecil dari adik Sultan Langkat. Tapi, Sultan Langkat tak mengasih,” ungkap Tengku Zulkifli Kamil, anak dari Kepala Langkat Hulu Tengku Pangeran Kamil, dalam dokumenter 1946: Sumatra Timur produksi Lentera Timur. 


Sementara itu, Usman Parinduri menaruh dendam pribadi terhadap Kesultanan Langkat. Ketika Usman kecil, menurut Bachtiar, ibunya diambil secara paksa dan dijadikan semacam gundik di Istana Tanjung Pura. Kemungkinan oleh Sultan Abdul Azis (bertakhta 1893–1927), ayah Sultan Mahmud. 


Sidang Volksfront Langkat bermufakat untuk menghukum mati Usman dan Marwan. Namun, ada beberapa versi bagaimana mereka dieksekusi. Bachtiar menerangkan, sewaktu Marwan dan Usman hendak ditangkap, teman-temannya dari Barisan Harimau Liar berupaya melindunginya. Pasukan Ksatria Pesindo di bawah pimpinan Sahadi menggempur markas tempat Usman dan Marwan disembunyikan. Usman dan Marwan pun berhasil diringkus. 


“Setelah diperiksa dihadapan pengadilan rakyat yang diketuai O.K.H Salamudin, Usman dijatuhi hukuman mati,” kata Bachtiar. 


Cerita lain, menurut Zainal Arifin, Volksfront Langkat memberikan kesempatan kepada Arifin Asneri, salah satu pemimpin revolusi sosial di Langkat, apabila kesalahannya ingin dimaafkan, maka Arifin harus menembak mati pelaku perkosaan putri Sultan Langkat, yaitu Marwan dan Usman.   


Arifin Asneri menyanggupi. Dalam suatu kesempatan, Arifin membujuk Usman dan Marwan pergi bersama ke Batang Sarangan. Dalam perjalanan di Tanjung Selamat, keduanya ditembak oleh Arifin. Marwan dan Usman menemui ajal sekaligus mengakhiri petualangan mereka dalam revolusi sosial di Langkat.* 

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

Advertisement

Kisah Begundal Revolusi Sosial di Langkat

Kisah Begundal Revolusi Sosial di Langkat

Dua pemimpin revolusi sosial melecehkan keluarga Kesultanan Langkat. Dianggap mencemarkan tujuan revolusi, kedua begundal itu dieksekusi mati.
Coolen and Christianity in Java

Coolen and Christianity in Java

Coolen spread Christianity in Java using wayang, a traditional Javanese puppet theatre. He acculturated Christian teachings with Javanese culture, creating a stark difference with Dutch Christianity.
Peternak Babi Pergi Gerilya

Peternak Babi Pergi Gerilya

Dengan pasukan kecil dan peralatan seadanya serta harus gantikan kaptennya yang dipancung, Mauritz Christiaan terus melawan tentara Jepang. Dalam kondisi lelah terus diburu Jepang.
Dari KNIL Jadi Tentara Republik

Dari KNIL Jadi Tentara Republik

Hidayat Martaatmadja memutuskan pensiun dari KNIL setelah menyaksikan penindasan Belanda terhadap bangsanya. Dia beperan dalam pendirian PDRI.
Kisah Pasukan Kristen dan Muslim Mengusir Invasi Viking

Kisah Pasukan Kristen dan Muslim Mengusir Invasi Viking

Invasi armada Viking menyisakan pembantaian dan penjarahan. Baik pasukan Asturia maupun pasukan Emirati Qurtubah gemilang memberi pukulan balik.
bottom of page