- 14 Jun 2018
- 2 menit membaca
Diperbarui: 6 hari yang lalu
SAAT ini, kita dapat dengan mudah mengetahui waktu berbuka. Petujuk waktu seperti jam maupun pemberitahuan waktu berbuka datang dari berbagai saluran, dari media massa sampai masjid-masjid terdekat. Namun, orang Indonesia zaman dulu sangat menanti suara ledakan sebagai tanda berbuka puasa. Ledakan itu dari mecon besar di masjid-masjid.
R.D. Sadulah dalam roman Zuster Hayati menulis bahwa mengambil hasil kebudayaan bangsa lain yang berguna bagi kita diperbolehkan, “seperti mengambil hikmat dari kebudayaan mesiu Cina dalam bentuk mercon blanggur, itu boleh kita manfaatkan. Mercon blanggur sangat berguna bagi orang yang berbuka puasa di bulan Ramadan, sebagai tanda berbuka puasa. Tidak semua orang mempunyai jam atau alat pengukur waktu yang lain.”
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.












