top of page

Coolen and Christianity in Java

Coolen spread Christianity in Java using wayang, a traditional Javanese puppet theatre. He acculturated Christian teachings with Javanese culture, creating a stark difference with Dutch Christianity.

loading_historia_white.gif
transparant.png

A health facility owned by the Seloredjo Sugar Company in Ngoro, East Java. (Wereldmuseum Amsterdam)

12 Mar
6 menit membaca

One day, two centuries ago, a Javanese commoner came to an elderly man of mixed Javanese-European descent in the village of Ngoro, Mojokerto. Singotaruno (Singo Stroeno), the Javanese commoner, had a riddle that had been passed down from his father. He then asked Coenrad Laurens Coolen (1773-1873), known as Mbah Coolen, a respected elderly man, about the riddle.


“Sir, I have a riddle; whoever solves it for me, I will follow them, and I will accept their words unconditionally. The riddle goes as follows: ‘Within God there is God; this deepest God, what is His name?’” said Singotaruno.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page