Diperbarui: 21 Jul
KOMANDO Operasi Khusus Gabungan (Koopsusgab) akan diaktifkan kembali untuk menanggulangi aksi teror. Pengerahan pasukan super elite dari tiga matra ini telah mendapat persetujuan dari Komisi I DPR. Menurut Panglima TNI Marsekal Hadi Thajanto, pihaknya masih menanti Peraturan Pemerintah (PP) sebagai payung hukum keberadaan Koopsusgab. Sebelumnya, pemerintah Amerika Serikat (AS) melalui wakil duta besarnya, Erin Mckee menawarkan bantuan untuk mengungkap dalang aksi terorisme.
Kondisi yang persis serupa juga pernah terjadi di masa lalu. Kala itu pemerintah Indonesia tengah dipusingkan dengan gerakan oposisi PRRI. PRRI melibatkan beberapa panglima daerah di Sumatera yang menentang kebijakan pemerintah pusat. Mereka antara lain Kolonel Maludin Simbolon, panglima di Sumatera Utara, Letkol Ahmad Husein, panglima di Sumatera Barat, dan Letkol Barlian di Sumatera Selatan. Untuk menindaknya, TNI menggelar operasi militer dengan sandi “Tegas” meliputi wilayah operasi di Riau pada Maret 1958.
“Operasi Tegas untuk merebut daerah perminyakan Riau, yang merupakan sasaran yang diperhitungkan bagi ‘intevensi’ Amerika Serikat,” ujar Abdul Haris Nasution dalam memoarnya Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 4: Masa Pancaroba Kedua. Dalam Operasi Tegas, Nasution yang berpangkat mayor jenderal berkedudukan sebagai ketua Gabungan Kepala Staf (GKS).
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.












