top of page

Operasi Bersama Gempur Sumatera

Operasi militer gabungan pertama di Indonesia digelar untuk menundukkan para panglima daerah yang membangkang. Tak luput dari intervensi asing.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Pasukan Banteng Raiders dalam penumpasan PRRI.

27 Mei 2018
3 menit membaca

Diperbarui: 21 Jul

KOMANDO Operasi Khusus Gabungan (Koopsusgab) akan diaktifkan kembali untuk menanggulangi aksi teror. Pengerahan pasukan super elite dari tiga matra ini telah mendapat persetujuan dari Komisi I DPR. Menurut Panglima TNI Marsekal Hadi Thajanto, pihaknya masih menanti Peraturan Pemerintah (PP) sebagai payung hukum keberadaan Koopsusgab. Sebelumnya, pemerintah Amerika Serikat (AS) melalui wakil duta besarnya, Erin Mckee menawarkan bantuan untuk mengungkap dalang aksi terorisme.           


Kondisi yang persis serupa juga pernah terjadi di masa lalu. Kala itu pemerintah Indonesia tengah dipusingkan dengan gerakan oposisi PRRI. PRRI melibatkan beberapa panglima daerah di Sumatera yang menentang kebijakan pemerintah pusat. Mereka antara lain Kolonel Maludin Simbolon, panglima di Sumatera Utara, Letkol Ahmad Husein, panglima di Sumatera Barat, dan Letkol Barlian di Sumatera Selatan. Untuk menindaknya, TNI menggelar operasi militer dengan sandi “Tegas” meliputi wilayah operasi di Riau pada Maret 1958.


“Operasi Tegas untuk merebut daerah perminyakan Riau, yang merupakan sasaran yang diperhitungkan bagi ‘intevensi’ Amerika Serikat,” ujar Abdul Haris Nasution dalam memoarnya Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 4: Masa Pancaroba Kedua. Dalam Operasi Tegas, Nasution yang berpangkat mayor jenderal berkedudukan sebagai ketua Gabungan Kepala Staf (GKS).  

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
transparant.png
bottom of page