top of page

Pembersihan Setelah Pembantaian di Tanjung Priok

Pasca insiden berdarah di Tanjung Priok, pemerintah Orde Baru menangkap orang-orang yang dianggap sebagai pembangkang politik.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Pangkopkamtib Jenderal TNI L.B. Moerdani, Menteri Penerangan Harmoko dan Pangdam Jaya Mayjen TNI Try Soetrisno saat akan melaksanakan konfrensi pers usai terjadinya insiden berdarah di Tanjung Priok. (Repro Sinar Harapan).

19 Sep 2018
3 menit membaca

NERAKA itu menghampiri A.M. Fatwa tepat seminggu setelah insiden berdarah di Tanjung Priok. Didampingi pengacaranya, lelaki asal Bone tersebut tengah diperiksa polisi ketika beberapa petugas dari Satuan Intel (Satuan Tugas Intelijen Khusus ABRI) langsung menyeretnya.


“Pengacara saya diancam saat akan mendampingi saya,” ujar Fatwa.


Fatwa dibawa ke markas CPM di Jalan Guntur, Jakarta. Dia diperlakukan tanpa mengenal kemanusiaan: dipukuli, disimpan dalam sel penuh air kencing, dihina dan dilarang mengaji serta salat lima waktu. Setelah puas memperlakukannya secara biadab, Satsus Intel membawa Fatwa dengan tangan terbelenggu ke Rumah Tahanan Militer Cimanggis, Depok.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Di usianya yang masih muda, Semaoen memimpin dan menggerakkan serikat buruh. Dia memperjuangkan pekerja tertindas dengan melancarkan pemogokan, sampai diusir pemerintah kolonial.
bg-gray.jpg
Beranjak remaja di tengah berseminya pergerakan, Semaoen “dibentuk” Sneevliet guna merintis jalan revolusioner.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah suffered a series of losses during her life. She lost four of her loved ones in a very short time.
bg-gray.jpg
Sebagai pegawai kereta api, masa depan Semaoen terjamin. Namun, dia memilih terjun ke pergerakan karena melihat ketidakadilan yang dialami rakyat jajahan.
transparant.png
bottom of page