top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Keruntuhan Bisnis Dasaad

Pada masanya, Agus Musin Dasaad mencapai puncak kejayaan bisnis pribumi. Kedekatannya dengan kekuasaan membuka banyak peluang sekaligus risiko. Ketika lanskap politik berubah, bisnisnya pun ikut goyah.

31 Des 2025

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Presiden Sukarno membesuk Agus Musin Dasaad di Rumah Sakit Sinta Carolus, Jakarta pada Juli 1963. (Perpusnas RI).

Diperbarui: 14 Jan

DI balik reputasinya sebagai konglomerat besar, Agus Musin Dasaad dikenal sebagai pengusaha yang menaruh perhatian pada politik. Jauh sebelum Republik Indonesia berdiri, ketika ia masih berstatus sebagai pekerja kantoran biasa, Dasaad sudah aktif memberikan dukungan kepada tokoh-tokoh politik, terutama Sukarno.


Dukungan itu terlihat ketika Sukarno keluar penjara Sukamiskin pada 31 Desember 1931 setelah dihukum karena aktivitas politiknya bersama Partai Nasional Indonesia (PNI). Ini adalah pertemuan pertama Dasaad, yang kala itu masih berusia sekitar 26 tahun, dengan Sukarno. Momen ini dikisahkan Sukarno dalam otobiografinya, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat, yang ditulis oleh Cindy Adams.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

Advertisement

Yang Tersisa dari Warisan Salahuddin di Pelosok Prancis

Yang Tersisa dari Warisan Salahuddin di Pelosok Prancis

Alkisah Masjid Buzancy di Ardennes, Prancis yang dibangun atas permintaan Sultan Salahuddin. Hancur semasa Revolusi Prancis. Kini beralih fungsi jadi sekolah.
Bukan Band Manis, God Bless Band Idealis

Bukan Band Manis, God Bless Band Idealis

God Bless tak mau sembarangan bikin album. Laris bukan tujuan mereka menelurkan album.
Titi Papan dan Awal Tembakau Deli

Titi Papan dan Awal Tembakau Deli

Kebun pertama tembakau Deli kini menjadi perkampungan di sekitar Jalan Platina, Medan.
Akhir Perlawanan Tuan Rondahaim Terhadap Belanda

Akhir Perlawanan Tuan Rondahaim Terhadap Belanda

Tuan Rondahaim melawan Belanda di Simalungun hingga akhir hayatnya. Dia tidak pernah menyerah. Penyakit rajalah yang menghentikan perlawanannya.
“Cari Adil, Dapat Bedil” dari Lurah Blasteran

“Cari Adil, Dapat Bedil” dari Lurah Blasteran

Dianggap menggerakan massa melawan pemerintah kolonial, Kuwu Groeneveld menanggung hukuman tak ringan.
bottom of page