top of page

Persekusi Ala Bangsawan Kutai

Beberapa bangsawan Kutai menganiaya seorang mandor. Para tersangka yang bangsawan itu diadili dan dihukum pemerintah kolonial.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Sultan Kutai bersama para menterinya. Di masa Sultan Aji Muhamad Parikesit, pernah terjadi bangsawan kerajaan mengeroyok seorang mandor. (KITLV/Leiden University Library).

6 Sep 2024
2 menit membaca

Diperbarui: 14 Feb

ALIH-ALIH dapat hormat dari biduan, mandor satu ini malah bernasib malang. Kemalangannya justru terjadi pada 14 Februari 1928. Bukan dianiaya orang tak dikenal, melainkan dianiaya orang dari keluarga yang cukup terkenal di tempat tinggalnya. Mandor itu bernama Solman bin Haji Demang.


Deli Courant edisi 4 November 1930 dan Algeemene Handelsblad, 23 Oktober 1930, mengabarkan, mandor itu tinggal di Tenggarong (kini Kabupaten Kutai Kartanegara) yang di zaman Hindia Belanda adalah bagian Kesultanan Kutai. Sultan Kutai kala itu adalah Sultan Aji Muhamad Parikesit. Solman dianiaya hingga kakinya patah. Konon, mandor ini bermusuhan dengan keluarga Sultan.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page