top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Amat “Kocolan”, Jagoan Betawi yang Selicin Ikan Gabus

Dulu, di Batavia harga nyawa seseorang setara 15 gulden. Segitulah harga yang dipatok Amat "Kocolan" salah satu jago untuk urusan menghilangkan nyawa.

18 Mei 2025

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Amat "Kocolan" (kiri), merupakan jago di Batavia pada awal abad ke-20. (Indisch Courant).

Diperbarui: 19 Mei 2025

IKAN gabus yang berukuran kecil dalam bahasa Betawi disebut “Kocolan”. Kendati tidak jelas sejak kapan kemunculannya, istilah kocolan sudah dipakai pada 1930-an. Bahkan, saking familiarnya, kocolan sering dijadikan julukan seseorang yang disegani di Batavia sebagaimana “bandot” digunakan untuk menjuluki lelaki yang doyan main perempuan atau istilah-istilah lain.


Dulu, di Batavia pernah hidup seorang jagoan bernama Amat. Dia dijuluki Kocolan alias gabus lantaran “kelicinannya”. Dalam Mengenal Ikan Gabus: Budidaya, Manfaat, dan Resep Masakan, Tresno Saras menyebut ada ikan gabus yang gemuk namun sulit ditangkap karena “licin” dan ulet, yakni ikan gabus Kalimantan. Kedua sifat itu identik dengan Amat hingga dirinya dijuluki Amat Kocolan.


Koran De Locomotief tanggal 4 Juni 1936 dan De Sumatra Post tanggal 6 Juni 1936 menjuluki Amat Kocolan sebagai raja gangster. Dia bergerak cepat, lincah, dan sulit ditangkap aparat kolonial. Semua kelebihan yang ada pada Amat Kocolan itu seakan menutupi kekurangannya sebagai pria yang sudah tak muda lagi pada tahun 1936. Meski tangannya tetap kekar, kulit tangannya sudah keriput.


Suatu ketika di tahun 1936, Amat ditanya apakah benar jika ada orang membayarnya 15 gulden untuk membunuh seseorang maka orang yang disasar itu pun bisa diatur untuk mati.


“Wah, betoel! Dengan lima belas gulden, telinga orang itu akan diantar ke rumahnya!” terang Amat Kocolan kepada wartawan yang bertamu ke rumahnya untuk mengobrol.


Tarif 15 gulden itu berlaku sebelum tahun 1936. Pada 1936 sendiri menurut Amat, “dulu lebih sulit untuk menyingkirkan seseorang, misalnya, dibandingkan sekarang. Sekarang ini Anda dapat dengan mudah melakukannya dengan sepuluh gulden.”


Layaknya gabus yang licin dan lincah, Amat tak pernah tertangkap atas kasus-kasus yang dibuatnya. Dia selalu membuat aparat hukum susah menangkapnya. Mirip Pitung di Batavia era 1890-an atau Billy the Kids di Amerika pada 1870-an. Kelebihan itu membuatnya ditanyai wartawan mengapa Amat Kocolan tak pernah celaka atau terluka parah dalam beraksi dan menghadapi petugas yang mengejarnya.


“Oh, ada isian yang bagus di pipi kananku,” terang Amat Kocolan.


Isian yang dimaksudnya merupakan semacam jimat. Menurut Aamt, mirip susuk. “Jauh lebih baik dari seorang jimat,” katanya, menjelaskan bahwa jimat terlalu merepotkan sebab jika berada di tempat yang salah, jimat bisa tak bermanfaat. Dengan isian itu pula Amat mengaku juga punya daya tahan yang baik terhadap rasa sakit.


Namun yang lucu, sebagai bang jago Amat pernah tertangkap tapi malah untuk sesuatu yang bukan kasusnya. Polisi menangkapnya untuk mendapatkan teman Amat yang berkasus. Penangkapan itu membuat Amat tahu sengsaranya menjadi tangkapan polisi.


Amat bukan penjahat kolot bermodal nekat. Seperti Pitung, Amat juga pakai pistol, yang di Jakarta dan sekitarnya kerap disebut beceng. Jenisnya revolver, dengan wadah peluru berputar seperti pistol koboi, bukan pistol otomatis yang dikokang. Kepada wartawan, Amat mengaku dari mana dia mendapatkan pistol itu seberapa sulit mendapatkannya.


“Oh, selama Priok ada, selama itu juga akan beredar pistol dan revolver gelap! Ada banyak makelar di sana. Pelaut dan orang Tionghoa berdagang revolver dan pistol otomatis, tetapi revolver adalah yang terbaik,” terang Amat.


Amat melanjutkan, harga sepucuk pistol revolver dengan beberapa peluru bisa mencapai 60 gulden. Namun, harganya sejatinya tak baku. Menurutnya, dengan 25 gulden saja, kadang-kadang sepucuk pistol yang bagus juga bisa didapat.


Dengan modal revolver dan nyali besar itulah Amat kondang sebagai penjahat kakap. Sohornya nama Amat membuatnya tak sulit mendapatkan jodoh. Amat punya tiga istri. Ketiganya bangga pada Amat yang kuat dan pemberani. Lebih dari itu, Amat juga pemurah yang memberikan rumah dengan halaman pada ketiganya.*

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

Advertisement

Titi Papan dan Awal Tembakau Deli

Titi Papan dan Awal Tembakau Deli

Kebun pertama tembakau Deli kini menjadi perkampungan di sekitar Jalan Platina, Medan.
“Cari Adil, Dapat Bedil” dari Lurah Blasteran

“Cari Adil, Dapat Bedil” dari Lurah Blasteran

Dianggap menggerakan massa melawan pemerintah kolonial, Kuwu Groeneveld menanggung hukuman tak ringan.
Jejak Raja dan Ratu Belgia di Indonesia

Jejak Raja dan Ratu Belgia di Indonesia

Dari Brussel ke Jalan Astrid di Kebun Raya Bogor. Raja dan Ratu Belgia dari berbagai masa punya cerita di Indonesia.
Riwayat Konglomerat Dasaad

Riwayat Konglomerat Dasaad

Jaringan bisnis Dasaad membentang di dalam dan luar negeri. Ia tercatat sebagai pengusaha Indonesia pertama yang membuka kantor cabang di Amerika Serikat.
Brigitte Bardot yang Kontroversial

Brigitte Bardot yang Kontroversial

Brigitte Bardot tak sekadar ikon perfilman yang dijuluki “Marylin Monroe-nya Prancis”. Ia juga “lokomotif sejarah perempuan”.
bottom of page