top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

“Anak-anak” Himmler dan Obsesi Nazi terhadap Ras Unggul

Heinrich Himmler menyerukan penculikan anak-anak Eropa Timur yang memiliki kriteria ras unggul untuk mewujudkan “keturunan super baru” bagi imperium Jerman.

25 Feb 2025

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Seorang ahli ras tengah melakukan pemeriksaan terhadap anak laki-laki. Salah satu tes yang dilakukan adalah pemeriksaan warna mata. (Guus de Vries, Himmler's Children).

Diperbarui: 29 Des 2025

OBSESI Reichsführer-SS, Heinrich Himmler, dalam mewujudkan “keturunan super baru” yaitu keluarga pria dan wanita yang memenuhi persyaratan rasial, keturunan, dan ideologis untuk menjadi kelas teratas bagi masa depan imperium Jerman melatarbelakangi pembentukan Lebensborn pada Desember 1935. Begitu besarnya perhatian Himmler terhadap Lebensborn menjadikan lembaga ini sebagai proyek prioritas dengan ribuan pekerja dan menghabiskan ratusan juta mark.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

Advertisement

Yang Tersisa dari Warisan Salahuddin di Pelosok Prancis

Yang Tersisa dari Warisan Salahuddin di Pelosok Prancis

Alkisah Masjid Buzancy di Ardennes, Prancis yang dibangun atas permintaan Sultan Salahuddin. Hancur semasa Revolusi Prancis. Kini beralih fungsi jadi sekolah.
Bukan Band Manis, God Bless Band Idealis

Bukan Band Manis, God Bless Band Idealis

God Bless tak mau sembarangan bikin album. Laris bukan tujuan mereka menelurkan album.
Titi Papan dan Awal Tembakau Deli

Titi Papan dan Awal Tembakau Deli

Kebun pertama tembakau Deli kini menjadi perkampungan di sekitar Jalan Platina, Medan.
Akhir Perlawanan Tuan Rondahaim Terhadap Belanda

Akhir Perlawanan Tuan Rondahaim Terhadap Belanda

Tuan Rondahaim melawan Belanda di Simalungun hingga akhir hayatnya. Dia tidak pernah menyerah. Penyakit rajalah yang menghentikan perlawanannya.
“Cari Adil, Dapat Bedil” dari Lurah Blasteran

“Cari Adil, Dapat Bedil” dari Lurah Blasteran

Dianggap menggerakan massa melawan pemerintah kolonial, Kuwu Groeneveld menanggung hukuman tak ringan.
bottom of page