- 21 Feb 2025
- 5 menit membaca
Diperbarui: 29 Des 2025
HILDEGARD TRUTZ baru saja menyelesaikan sekolahnya pada 1936. Ia tidak tahu pekerjaan apa yang dapat membuat masa depannya cerah. Gadis berusia 18 tahun itu kemudian meminta saran kepada seorang pemimpin Bund Deutscher Mädel (BDM, organisasi perempuan yang setara dengan Hitler Youth atau Pemuda Hitler), tempatnya bergabung sebagai anggota sejak tahun 1933, yang menyarankannya untuk ambil bagian dalam progam Lebensborn.
“Apa yang dibutuhkan Reich adalah pasokan tenaga yang sehat dan murni secara rasial,” kata pemimpin BDM setempat kepada Hildegard sebagaimana dikutip oleh Paul Roland dalam Nazi Women of the Third Reich: Serving the Swastika.
Lembaga Lebensborn, yang berarti “mata air kehidupan”, didirikan pada Desember 1935. Menurut sejarawan Amy Carney dalam Marriage and Fatherhood in the Nazi SS, Lebensborn didirikan tidak semata-mata untuk menyokong para ibu yang tidak menikah dan anak-anak yang lahir di luar pernikahan, tetapi juga bermanfaat bagi para ibu yang sudah menikah dan anak-anak yang sah. Wisma Lebensborn adalah rumah sakit bersalin di mana para perempuan –terutama mereka yang bertunangan atau menikah dengan pria SS, atau mereka yang hubungan seksualnya dengan seorang pria SS berujung pada kehamilan– dapat menerima perawatan sebelum, selama, dan setelah kelahiran anak-anak mereka. Lembaga ini juga mendukung keluarga-keluarga SS yang memiliki banyak anak.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.












