- 18 Des 2025
- 6 menit membaca
Diperbarui: 21 jam yang lalu
SUATU sore, karena keasyikan bermain petak umpet, S.K. Trimurti kecil pulang begitu malam tiba. Dia berjalan sendirian melalui lorong-lorong kecil dengan pepohonan besar di kiri-kanan jalan. Tiba-tiba terdengar sesuatu jatuh berdebam. Dia kira buah nangka. Ternyata, sosok hitam kecil yang makin lama makin besar hingga setinggi pohon nangka. Dia lari sekuat tenaga.
Ketika membantu ibunya membatik, Trimurti menceritakan pengalaman aneh itu. Saparinten, sang ibu, menjawab: “Itu memang suatu kemampuan yang hanya dimiliki almarhum kakekmu. Ternyata, kemampuan melihat badan halus itu diturunkan kepadamu.”
Sejak itu, Trimurti percaya akan kekuatan makhluk halus. Keyakinan itu mendorong minatnya pada soal-soal kebatinan. Minatnya mengendap lama karena kesibukannya dalam politik. Baru pada 1958, dia bisa meluangkan waktu untuk mendalami kebatinan. Dia mengikuti kursus tertulis di Akademi Metafisika Surakarta di bawah pimpinan Dr. R. Parjana Surjadiputra, seorang dokter dan direktur Rumah Sakit Umum Semarang yang juga tokoh aliran kebatinan.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















