top of page

S.K. Trimurti Murid Politik Bung Karno

Sebagai murid, S.K. Trimurti tak selalu sejalan dengan guru politiknya. Dia menentang Sukarno kawin lagi dan menolak tawaran menteri. Namun, Sukarno tetap memujinya dan memberinya penghargaan.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Lukisan S.K. Trimurti menerima penghargaan dari Presiden Sukarno. (Dok. Keluarga S.K. Trimurti).

5 Des 2025
6 menit membaca

Diperbarui: 11 Mei

LUKISAN itu berukuran 100 x 60 centimeter. Presiden Sukarno menyematkan penghargaan Bintang Mahaputra Tingkat III ke dada S.K. Trimurti. Wajahnya datar. Tak ada senyuman menghiasi bibirnya. Sementara Trimurti berusaha menahan diri agar mulut tak terbuka dan tertawa.


Bagi Trimurti, kejadian ini lucu sekali. Kala itu hubungannya dengan Sukarno lagi renggang. Gara-garanya Trimurti mengkritik kebiasaan Sukarno yang doyan kawin. Dalam hati dia bertanya: “Bung Karno ini benci apa tidak kepada saya? Kok, selagi saya masih di-jothak (didiamkan), saya diberi bintang. Saya ini sebetulnya termasuk orang yang kurang ajar atau orang yang kelebihan ajar? Entahlah. Tapi ini pengalaman unik.”


Hidupnya memang tak bisa lepas dari sosok Sukarno. Setelah melihat langsung pidato Sukarno dalam rapat umum Partindo di Purwokerto tahun 1932, Trimurti masuk Partindo dan sejak itu menjadi kader kesayangan Bung Karno. Hubungan guru-murid ini kemudian terputus ketika pemerintah kolonial menangkap dan membuang Sukarno ke Flores pada Agustus 1933, lalu dipindahkan ke Bengkulu pada 1938 hingga awal pendudukan Jepang. Sementara Trimurti pulang kampung dan melanjutkan perjuangan di Jawa Tengah.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
transparant.png
bottom of page