- 23 Nov 2025
- 8 menit membaca
Diperbarui: 11 Mei
SETELAH beberapa hari menjalani tahanan rumah, S.K. Trimurti mendapat panggilan untuk datang ke penjara Jurnatan, Semarang. Seorang Kenpeitai Jepang bernama Nedaci menginterogasinya. Interogasi tak berjalan lancar karena perbedaan bahasa. “Pokoknya Trimurti mengerti bahwa Jepang mendakwa dia mau melawan Jepang,” tulis Soebagijo I.N dalam S.K. Trimurti, Wanita Pengabdi Bangsa.
Trimurti menjawab bahwa dia tak memusuhi Jepang, Belanda, maupun bangsa lain. Yang dimusuhinya hanyalah sikap menjajah dari bangsa-bangsa itu. Jika Jepang datang untuk menjalin persaudaraan, dia akan menyambutnya dengan baik. Tapi kalau mereka datang untuk menjajah, dia akan melawan.
Mendengar jawaban Trimurti, Nedaci memelototkan mata sembari menyemburkan sumpah serapah. Dia lalu berdiri dan duduk di bangku sebelah Trimurti. Trimurti melirik. Nedaci mengambil pentungan karet di meja dan memukul kepalanya berkali-kali. “Pada saat-saat tertentu dia sudah tidak merasakan sakit lagi,” tulis Soebagijo I.N.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















