top of page

Sejarah Indonesia

Gadis Berlawan Dari

Gadis Berlawan dari Sawahan

Sebagai anak priayi rendahan, S.K. Trimurti bisa saja hidup mapan sebagai pegawai negeri. Namun, dia menanggalkan status itu dan memilih terlibat dalam politik.

20 November 2025

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

S.K. Trimurti bersama saudara sekandung. Kiri-kanan: Suranto, Trimurti, Suryo Sumanto, Sumakti (Ny. S. Sugito), dan Sunaryo tahun 1970. (Dok. Keluarga S.K. Trimurti).

Diperbarui: 24 Nov

SEBAGAI perempuan, sedari kecil, Surastri Karma Trimurti mendapat petuah dari orangtuanya bahwa perempuan, mau tak mau, pada akhirnya akan menjadi seorang istri. Seorang istri harus setia dan patuh, apa pun yang dilakukan sang suami. Trimurti menerjemahkannya bahwa perempuan mesti pandai marak, macak, masak, dan manak.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

Neraka di Ghetto Cideng

Neraka di Ghetto Cideng

Jepang menyatakan Kamp Cideng sebagai ghetto “terlindungi”. Kenyataannya, hidup para interniran seperti di neraka.
S.K. Trimurti Menyalakan Api Kartini

S.K. Trimurti Menyalakan Api Kartini

S.K. Trimurti ikut membangun Gerwani, organisasi perempuan paling progresif. Namun, Trimurti mengundurkan diri ketika Gerwani mulai oleng ke kiri dan dia memilih suami daripada organisasi.
S.K. Trimurti Murid Politik Bung Karno

S.K. Trimurti Murid Politik Bung Karno

Sebagai murid, S.K. Trimurti tak selalu sejalan dengan guru politiknya. Dia menentang Sukarno kawin lagi dan menolak tawaran menteri. Namun, Sukarno tetap memujinya dan memberinya penghargaan.
Ziarah Sejarah ke Petamburan (1)

Ziarah Sejarah ke Petamburan (1)

Dari pelatih sepakbola Timnas Indonesia Toni Pogacnik hingga pembalap Hengky Iriawan. Sejumlah pahlawan olahraga yang mewarnai sejarah Indonesia dimakamkan di TPU Petamburan.
S.K. Trimurti di Tengah Tokoh Kiri

S.K. Trimurti di Tengah Tokoh Kiri

Sikap politik S.K. Trimurti bersinggungan dengan tiga tokoh kiri terkemuka Republik: Tan Malaka, Amir Sjarifoeddin, dan Musso.
bottom of page