- 21 Nov 2025
- 9 menit membaca
Diperbarui: 1 hari yang lalu
SEBAGAI perempuan, sedari kecil, Surastri Karma Trimurti mendapat petuah dari orangtuanya bahwa perempuan, mau tak mau, pada akhirnya akan menjadi seorang istri. Seorang istri harus setia dan patuh, apa pun yang dilakukan sang suami. Trimurti menerjemahkannya bahwa perempuan mesti pandai marak, macak, masak, dan manak.
“Marak, artinya menghadap, mengabdi kepada suami. Macak, berarti menghias diri, masak, mengolah dan menyediakan makanan dengan baik, sedang manak adalah melahirkan anak. Ketika petuah-petuah semacam itu meluncur dengan derasnya ke telinga saya, saya masih terlalu kecil untuk membantah,” tulis Trimurti dalam memoarnya, “Dari Politik ke Kebatinan” yang dimuat majalah Tempo, 21 April 1990.
Lahir dengan nama Surastri pada 11 Mei 1912 di Sawahan, Boyolali, Trimurti tumbuh di kala kesadaran perempuan mulai meningkat. Di Jakarta sudah berdiri organisasi perempuan pertama Poeteri Mardika yang bertujuan meningkatkan derajat perempuan, yang lalu diikuti perkumpulan serupa di sejumlah daerah. Gagasan kemajuan perempuan juga meluas. Namun, kungkungan adat dan pandangan kolot belum sepenuhnya hilang.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















