top of page

Gadis Berlawan dari Sawahan

Sebagai anak priayi rendahan, S.K. Trimurti bisa saja hidup mapan sebagai pegawai negeri. Namun, dia menanggalkan status itu dan memilih terlibat dalam politik.

loading_historia_white.gif
transparant.png

S.K. Trimurti bersama saudara sekandung. Kiri-kanan: Suranto, Trimurti, Suryo Sumanto, Sumakti (Ny. S. Sugito), dan Sunaryo tahun 1970. (Dok. Keluarga S.K. Trimurti).

21 Nov 2025
9 menit membaca

Diperbarui: 11 Mei

SEBAGAI perempuan, sedari kecil, Surastri Karma Trimurti mendapat petuah dari orangtuanya bahwa perempuan, mau tak mau, pada akhirnya akan menjadi seorang istri. Seorang istri harus setia dan patuh, apa pun yang dilakukan sang suami. Trimurti menerjemahkannya bahwa perempuan mesti pandai marak, macak, masak, dan manak.


Marak, artinya menghadap, mengabdi kepada suami. Macak, berarti menghias diri, masak, mengolah dan menyediakan makanan dengan baik, sedang manak adalah melahirkan anak. Ketika petuah-petuah semacam itu meluncur dengan derasnya ke telinga saya, saya masih terlalu kecil untuk membantah,” tulis Trimurti dalam memoarnya, “Dari Politik ke Kebatinan” yang dimuat majalah Tempo, 21 April 1990.


Lahir dengan nama Surastri pada 11 Mei 1912 di Sawahan, Boyolali, Trimurti tumbuh di kala kesadaran perempuan mulai meningkat. Di Jakarta sudah berdiri organisasi perempuan pertama Poeteri Mardika yang bertujuan meningkatkan derajat perempuan, yang lalu diikuti perkumpulan serupa di sejumlah daerah. Gagasan kemajuan perempuan juga meluas. Namun, kungkungan adat dan pandangan kolot belum sepenuhnya hilang.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Di usianya yang masih muda, Semaoen memimpin dan menggerakkan serikat buruh. Dia memperjuangkan pekerja tertindas dengan melancarkan pemogokan, sampai diusir pemerintah kolonial.
bg-gray.jpg
Beranjak remaja di tengah berseminya pergerakan, Semaoen “dibentuk” Sneevliet guna merintis jalan revolusioner.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah suffered a series of losses during her life. She lost four of her loved ones in a very short time.
bg-gray.jpg
Sebagai pegawai kereta api, masa depan Semaoen terjamin. Namun, dia memilih terjun ke pergerakan karena melihat ketidakadilan yang dialami rakyat jajahan.
transparant.png
bottom of page