- 27 Nov 2025
- 9 menit membaca
Diperbarui: 18false16 GMT+0000 (Coordinated Universal Time)
SUATU malam, di rumahnya di Yogyakarta, S.K. Trimurti kedatangan seorang tamu. Namanya Setiadjit, ketua Partai Buruh Indonesia (PBI). Dia bilang Presiden Sukarno meminta dirinya, Adnan Kapau (AK) Gani, dan Amir Sjarifoeddin untuk menyusun kabinet baru dalam waktu 14 jam. Dan sebagai anggota formatur kabinet, mereka akan membentuk Kementerian Perburuhan. Dia menanyakan apakah Trimurti bersedia mengisi pos itu. Spontan Trimurti menolak.
“Saya merasa tidak mampu. Saya belum pernah menjadi menteri.”
“Bung Karno juga belum pernah menjadi presiden.”
Setiadjit mengingatkan Trimurti soal disiplin partai dan memberikan waktu untuk berpikir semalaman.
Rencana pembentukan kabinet tak lepas dari kisruh politik di seputar Persetujuan Linggarjati. Karena dianggap merugikan posisi Indonesia, Kabinet Sjahrir III menuai kecaman, termasuk dari anggota partainya di dalam Sayap Kiri. Sjahrir akhirnya mundur sebagai perdana menteri pada 27 Juni 1947. Awalnya Sukarno menunjuk Amir Sjarifoeddin, Sukiman Wirjosanjoyo, A.K. Gani, dan Setiadjit sebagai formatur untuk membentuk kabinet koalisi tapi gagal karena Masyumi meminta jatah kursi-kursi penting. Sukarno lalu menunjuk Amir Sjarifoeddin, A.K. Gani, dan Setiadjit untuk membentuk kabinet nasional.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















