- 25 Nov 2025
- 8 menit membaca
Diperbarui: 11 Mei
RUMAH di Pakuningratan, Yogyakarta, ini cukup besar tapi masih kosong. Rumah ini pemberian Ny. Sri Mangunsarkoro, salah seorang pendiri dan ketua Persatuan Wanita Republik Indonesia (Perwari). Tak kehilangan akal, S.K. Trimurti menyurati kawan-kawan seperjuangannya tentang niatnya membuat kursus kader. Isinya, minta bantuan.
Respons pun berdatangan. Sumbangan berupa tikar, bantal, guling, alat dapur, hingga beras mengisi rumah itu. Bangku dan papan tulis dipinjam dari sana-sini. Trimurti pun siap menghelat kursus kader Barisan Buruh Wanita (BBW) seluruh Jawa. Jumlah peserta sekira 30 orang, dengan lama kursus sebulan. “Tentu saja mereka harus mau tidur di bawah, di atas tikar. Padahal, di antara para peserta ada yang datang dari kelompok ningrat, kaum terpelajar yang termasuk orang berada. Tetapi begitulah pejuang; tidak usah manja,” ujar Trimurti dalam biografinya yang ditulis Soebagijo I.N.
Para peserta mendapat pelajaran tentang langkah perjuangan. Selain Trimurti, ada pengajar lain yang datang dan membantu tanpa pamrih. Trimurti sangat gembira. Setelah kursus kader berakhir, para siswa pulang, mengemban tugas untuk Republik yang masih muda.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















