top of page

Melihat Benua Biru Lewat Europe on Screen

Edisi ke-19 festival film terlama. Ajang untuk menengok Eropa lewat film-film berkualitas.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 24 Mar 2019
  • 3 menit membaca

TAK ada yang lebih populer dari Norwegia selain fyord-fyord cantiknya dan sebagai salah satu pewaris bangsa Viking. Namun, Norwegia bukan dua hal itu semata. Film Brødre (2015) membuktikannya dengan tawaran lebih dari sekadar daya tarik wisata.


Film dokumenter berdurasi 110 menit itu memang tak punya action atau drama sebagaimana film-film Hollywood. Namun, film ini mengandung banyak makna. Sederhananya, film ini berkisah tentang keseharian dua bocah: Markus dan Lukas Holm yang digarap sang ibu, Aslaug Holm. Lewat mata kamera sang ibu, penonton diajak mengarungi kehidupan detail rata-rata penduduk Norwegia yang tinggal di pesisir Ibukota Oslo.


Selain berkisah tentang harapan, kekecewaan, dan lika-liku kehidupan Markus dan Lukas, sang ibu juga mengungkit bagaimana anak-anak mereka menjalani hidup di bawah naungan para leluhur yang secara turun-temurun merupakan nelayan tangguh.


Bersama film garapan sineas Italia Paolo Sorrentino yang memenangkan Academy Awards dan Golden Globe pada 2014, La Grande Bellezza (2013), Brødre akan mengajak kita menyaksikan sisi lain Eropa. Dua film apik ini jadi sajian “Road to Europe on Screen 2019” di Institut Budaya Italia (IIC), Jakarta, Jumat (22/3/2019).


Mula Festival Film Eropa


Europe on Screen (EoS) tahun ini akan jadi edisi ke-19 yang digelar Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia dan Brunei pada 18-30 April 2019. Tidak hanya di Jakarta, lebih dari 100 film berkualitas juga akan diputar di enam kota lain: Tangerang Selatan, Bandung, Surabaya, Denpasar, Medan, dan Yogyakarta.


“Tapi kalau untuk jadwal film-filmnya mohon sabar dulu ya. Nanti kita akan umumkan pada 2 April lewat media-media sosial kita. Sementara, yang di situs kita (europeonscreen.org) itu masih jadwal tahun lalu,” terang Nauval Yazid, salah satu Festival Co-Directors EoS, kepada Historia.


Nauval Yazid, Festival Co-Directors Europe on Screen 2019 (Randy Wirayudha/Historia)
Nauval Yazid, Festival Co-Directors Europe on Screen 2019 (Randy Wirayudha/Historia)

Meski ini jadi yang ke-19, bukan berarti festival film asal benua biru ini bermula pada 2000. Festival film dengan durasi terlama dan salah satu yang tertua di Jakarta ini eksis pertamakali pada 1990 dengan nama European Film Festival.


Majalah Pertiwi edisi 116 (1990) mengulas, Festival Film Eropa itu diprakarsai Centre Culturel Français (CCF), kiniInstitut Français d’Indonésie (IFI) atau Pusat Kebudayaan Prancis di Jakarta dalam rangka kerjasama kebudayaan Indonesia dengan Masyarakat Ekonomi Eropa. Festival dihelat pada 20 November-1 Desember 1990; film-filmnya diputar serentak di IFI, Goethe Institut (Jerman), Erasmus Huis (Belanda), British Council (Inggris), dan Institut Cervantes Jakarta (Spanyol).


Namun, gelaran kedua baru bisa dihelat pada 1999. Itupun akhirnya batal digelar lantaran beberapa filmnya tak lolos sensor Lembaga Sensor Film, tulis Jonathon Green dan Nicholas J. Karolides dalam Encyclopedia of Censorship.


“Awalnya dijadwalkan Festival Film Eropa itu pada September 1999 di Jakarta. Tiga dari sembilan film sudah lolos sensor. Tapi sisanya diperbolehkan diputar setelah dipotong adegan-adegan seksualnya. Penyensoran itu tak bisa diterima komite Festival Film Uni Eropa.”


Tiga tahun jeda, hajatan itu comeback dengan nama Europe on Screen (Eos) pada 2003. Sejak itu, festival tersebut rutin digelar tahunan. “Sejak 2003 sampai 2006 EoS istilahnya numpang di JiFFest (Jakarta International Film Festival). Jadi mereka jadi bagian dari salah satu programnya JiFFest. Baru pada 2007 EoS berdiri sendiri,” sambung Nauval.


Seratus Film Cuma-Cuma


Sebagaimana edisi-edisi sebelumnya, EoS tahun ini tetap bisa dinikmati cuma-cuma alias gratis. Lebih dari 100 film dari puluhan negara Eropa akan jadi suguhan di tujuh kota sepanjang 18-30 April 2019.


“Kalau dirunut per judul, kira-kira totalnya 118 film dari 27 negara Eropa. Tapi film-filmnya memang produksi dari kurun 2016-2017. Dari awal kita selalu mencari filmnya memang dari kurun dua tahun berjalannya festival. Ada juga yang dari 2016, itu film dari Azerbaijan karena memang negara mereka output filmnya tidak banyak per tahun,” ujar Nauval lagi.


Bukan hanya dari kedutaan dan pusat kebudayaan negara-negara Eropa, Nauval kadang harus mencari film dari pihak-pihak di luar kedutaan. “Karena enggak semua kedutaan punya kearsipan dan kepustakaan budaya seperti Italia, Prancis, Jerman, Belanda. Lainnya kita harus cari sendiri langsung ke para film-makers, sales agents, atau distributor.”


Nauval menambahkan, pihaknya tak pernah menentukan tema-tema besar tertentu. Kalaupun ada isu tertentu yang ingin diangkat, biasanya akan disisipkan di program dokumenter mereka. Seperti tahun ini, EoS mengangkat isu soal tanah dan film Brødre seperti yang sedikit diuraikan di atas, adalah salah satu representasinya.


“Kita tetap ingin setiap tahun ada sub-section tersendiri yang mengkangkat sebuah isu. Biasanya untuk kategori dokumenter. Tahun lalu tentang kelautan karena di Uni Eropa tahun lalu lagi ada konferensi tentang kelautan. Tahun ini tentang our land, tanah. Kita ingin angkat isu tentang tanah dari sisi turisme, eksplorasi, hukum, tanah sebagai tempat tinggal, sampai tanah yang jadi sengketa,” ujarnya menutup obrolan.



Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje traveled to Jeddah and Mecca to observe and gather information about Muslims in the Dutch East Indies.
bg-gray.jpg
Gerilya di hutan hingga dapat julukan Ratu Rimba Malaya, Shamsiah Fakeh pernah ditangkap di Jakarta pasca peristiwa G30S 1965.
bg-gray.jpg
Sebelum menjadi sentra kuliner seperti sekarang, kawasan Jalan Sabang pernah menjadi tempat nongkrong anak gaul Jakarta hingga tempat mangkal tante-tante kesepian.
bg-gray.jpg
Klub sepakbola yang dibangun komunitas Arab Pekalongan ini tak bisa dianggap remeh. Kendati kerap didera kesulitan finansial, Alhilaal berhasil merengkuh gelar juara.
Chairil Anwar dan ayahnya wafat di tahun yang sama. Diperingati sebagai hari berkabung di Indragiri dan Hari Puisi Nasional.
Chairil Anwar dan ayahnya wafat di tahun yang sama. Diperingati sebagai hari berkabung di Indragiri dan Hari Puisi Nasional.
Mahmoud Abbas tak punya legitimasi, kata sejarawan Vijay Prashad. Pemimpin Palestina sebenarnya ada di penjara, salah satunya Marwan Barghouti.
Mahmoud Abbas tak punya legitimasi, kata sejarawan Vijay Prashad. Pemimpin Palestina sebenarnya ada di penjara, salah satunya Marwan Barghouti.
Rudy Pirngadie jenderal berbintang pudar. Gemerlap justru memancar dari bintangnya di dunia musik. Dijuluki Buaya Keroncong hingga Jenderal Keroncong.
Rudy Pirngadie jenderal berbintang pudar. Gemerlap justru memancar dari bintangnya di dunia musik. Dijuluki Buaya Keroncong hingga Jenderal Keroncong.
Donald Trump menghina Paus Leo XIV. Dahulu Napoleon menangkap dua Bapa Suci.
Donald Trump menghina Paus Leo XIV. Dahulu Napoleon menangkap dua Bapa Suci.
Dari bergeliat, peternakan-peternakan sapi perah di seantero Jakarta perlahan menghilang akibat gejolak politik. Ada banyak haji di balik industri tersebut.
Dari bergeliat, peternakan-peternakan sapi perah di seantero Jakarta perlahan menghilang akibat gejolak politik. Ada banyak haji di balik industri tersebut.
Perjalanan 50 tahun Apple penuh inovasi dan tantangan, bermula dari garasi hingga rmenjadi raksasa teknologi global.
Perjalanan 50 tahun Apple penuh inovasi dan tantangan, bermula dari garasi hingga rmenjadi raksasa teknologi global.
transparant.png
bottom of page