- 5 jam yang lalu
- 4 menit membaca
MESKI tanahnya dapat menghasilkan ketela berkualitas bagus, Gunung Kawi justru terkenal sebagai tempat mencari peruntungan. Entah sejak kapan tradisi itu bermula. Yang terang, pada 1990-an orang pergi ke Gunung Kawi identik dengan tujuan ngalap berkah hingga ritual mistik pesugihan.
“Sudah sejak lama Gunung Kawi (2.651 meter) yang terletak 49 km sebelah barat kota Malang, dikenal sebagai tempat ziarah untuk ngalap berkah. Makam yang dikeramatkan itu dipercaya sebagai makam Kanjeng Panembahan Djoego dan Raden Mas Iman Soedjono,” lansir Harian Ekonomi Neraca, 2 Oktober 1992.
Gunung Kawi memang menyimpan banyak misteri. Menurut berita Pewarta Soerabaia, 30 November 1957, di Gua Kemanten Gunung Kawi bersemayam seorang putri yang awet muda bernama Raden Tjekluk. Disebut tjekluk karena penampakan makhluk ini seperti tak bertulang, sehingga berdirinya macam orang peot.
Juru kunci mengatakan, bila ada orang yang masuk ke Gua Kemanten dan tampak sepasang pengantin duduk di kursi, maka keinginannya akan terkabul. Namun, bila tidak melihat pengantin, permintaannya tak terkabul. Tak mudah untuk mengetahui keberadaan Raden Tjekluk. Dia disebut sebagai makhluk halus pemimpin para lelembut di Gunung Kawi. Kepada Raden Tjekluk inilah orang-orang melakukan ritual pesugihan.
“Lebih lanjut diuraikan bahwa di Gunung Kawi kalau malam Jumat Legi ada persidangan dari para lelembut (jin, setan, dll) yang baik-baik budi saja. Semua ini merumuskan siapa di antara manusia yang patut diberkahi (permintaannya terkabul). Yang memimpin ini semua ialah Raden Tjekluk,” tulis Pewarta Soerabaia.
Makam Keramat Tokoh Kharismatik
Terlepas dari kisah mistis yang melingkupinya, kawasan Gunung Kawi telah menjadi destinasi wisata reliji pada 1970-an. Dari sekian banyak petilasan, makam keramat Mbah Djoego dan Raden Mas Iman Soedjono adalah tujuan utama para peziarah. Kedua tokoh kharismatik ini semasa hidupnya sebagai pendakwah agama Islam dan pelarian dari Keraton Mataram.
Mbah Djoego memiliki nama bangsawan Raden Mas Soeryodiatmodjo, cucu Pangeran Diponegoro sekaligus buyut dari Pakubuwono I yang memerintah Keraton Kertasura tahun 1705–1719. Karena memiliki kemampuan dakwah agama Islam, dia mengganti namanya menjadi Kiai Zakaria II. Ketika Perang Diponegoro pada 1825–1830, Kiai Zakaria II melarikan diri ke daerah Blitar. Untuk menghindari kejaran Belanda, dia menjalani hidup sebagai orang biasa dengan nama Sadjoego, yang artinya “saya seorang diri”, dan lebih dikenal sebagai Mbah Djoego.
Sementara itu, Raden Mas Iman Soedjono adalah buyut dari Sultan Hamengkubuwono I yang memerintah Keraton Yogyakarta tahun 1755–1792. Ketika menyingkir ke Desa Kesamben, Blitar, Iman Soedjono bergabung dengan Mbah Djoego menjadi pendakwah Islam dan tokoh spiritual yang dihormati di Jawa Timur.
Mbah Djoego wafat pada 1871, dan sesuai wasiatnya minta dimakamkan di lereng Gunung Kawi. Sejak itu, makamnya diziarahi orang. Iman Soedjono sebagai juru kunci makam Mbak Djoego. Selain itu, dia juga membuka lahan dan padepokan di Gunung Kawi sebagai tempat berguru orang-orang dari berbagai penjuru. Iman Soedjono wafat pada 1876 dan dimakamkan seliang dengan Mbah Djoego. Keturunan RM Iman Soedjono menjadi juru kunci turun-temurun makam keramat. Semakin ramailah minat peziarah mendatangi makam kedua tokoh yang dihormati ini.
“Keberadaan makam kedua tokoh spiritual yang dikeramatkan itu mengundang persepsi dan motivasi para pengunjung untuk berziarah ngalap berkah dan mohon selamat ke Gunung Kawi. Namun, dari sekian jumlah pengunjung yang datang kebanyakan mempunyai maksud tujuan untuk ngalap berkah, berburu rezeki dan mencari lancar usaha, banyak untung,” tulis Tashadi, Gatut Murniatmo, dan Sumantarsih dalam Budaya Spiritual dalam Situs Keramat di Gunung Kawi Jawa Timur.
Pengunjung Tionghoa
Pada 1970–1980-an, wisata Gunung Kawi mencapai masa kejayaannya berkat pembangunan jalan menuju lokasi. Infrastruktur ini memudahkan para pengunjung dan menstimulasi pembangunan penginapan, parkir, pusat belanja suvenir dan kuliner, penjualan kembang ziarah, hingga jasa pramuwisata. Namun, yang menarik, kebanyakan pengunjung wisata Gunung Kawi berasal dari warga Tionghoa. Bila hari raya Imlek, orang Tionghoa datang membludak untuk ziarah ke Gunung Kawi.
“Biasanya, setelah berziarah, mereka banyak datang ke Siamsi, suatu permainan bambu yang dikocok-kocokkan, dan akan keluar satu bambu dari bambu-bambu, yang kemudian ditukar dengan kertas yang mempunyai arti kepercayaan masing-masing. Ada yang tulisannya menggambarkan nasib baik, dll,” lansir Neraca, 11 November 1988.
Ada beberapa versi yang menjadi alasan warga Tionghoa berkunjung ke Gunung Kawi. Sahibul hikayat mengisahkan seorang Tionghoa bernama Pek Yam yang sakit-sakitan menjadi sembuh setelah ziarah ke Gunung Kawi. Sejak itu, dia mendirikan klenteng di Gunung Kawi dekat makam keramat Mbah Djoego.
Menurut penelitian Tashadi dkk., para peziarah keturunan Tionghoa datang ke Gunung Kawi percaya bahwa Jay Sin (dewa pesugihan), bermukim di makam Mbah Djoego. Kunjungan keturunan Tionghoa juga diperkuat alasan keyakinan Mbah Djoego adalah Than Lo Su (guru pertama) dan Raden Mas Imam Soedjono adalah Ji Lo Su (guru kedua).
Sementara itu, Fitria Sis Nariswari dalam tesisnya, “Situs Gunung Kawi dan Ritual Ngalap Berkah Sebagai Persilangan Kekuasaan”, studi kultural FIB Universitas Indonesia, menyebutkan kebijakan penanaman modal asing di era Orde Baru mendesak para pedagang dan pengusaha Tionghoa untuk mencari perlindungan tak kasat mata dari ketatnya persaingan bisnis.
“Orang-orang Tionghoa pada saat itu semacam tidak lagi memiliki pelindung, kecuali hal-hal yang diyakini dapat memberikan perlindungan, misalnya arwah seseorang yang dianggap leluhur. Dengan demikian, banyak orang Tionghoa yang datang ke makam Eyang Djoego dan Eyang Soedjono untuk meminta perlindungan usahanya,” tulis Fitri.
Dalam perkembangannya, Gunung Kawi menjadi tempat berbagai jenis orang mencari peruntungan. Mulai dari peziarah lokal hingga wisatawan mancanegara. Mereka ada yang datang meminta keselamatan, rezeki, ingin punya keturunan, hingga yang berandai-andai mendapat kode SDSB (Sumbangan Dermawan Sosial Berhadiah), semacam lotre yang terkenal di masa Orde Baru. Selain peziarah, ada juga pengunjung yang sekadar piknik, baik pribadi maupun lewat paket biro wisata.
Menurut harian Neraca, 27 Januari 1993, beberapa konglomerat juga datang diam-diam ke Gunung Kawi dengan kawalan ketat para pengawalnya. “Konglomerat yang biasa datang ke Gunung Kawi di antaranya Liem Sioe Liong juga anaknya, Anthony Salim juga Prajogo Pangestu.”
Belakangan, isu Gunung Kawi menjadi tempat yang didatangi beberapa selebritas terkenal hingga meminta tumbal, mencuat di berbagai pemberitaan. Komodifikasi Gunung Kawi pun kian komersial dengan munculnya tarif ritual ziarah. Benar atau tidaknya tuah Gunung Kawi bagi para peziarah, tentu saja masih misteri. Tergantung kepercayaan masing-masing orang. Namun, yang terang, daya tarik Gunung Kawi yang rata-rata dikunjungi 10.000 tamu tiap bulan, memberikan berkah bagi warga setempat yang menggantungkan mata pencahariannya dari kunjungan peziarah maupun wisatawan.*



















Komentar