- Bonnie Triyana
- 10 Okt 2011
- 4 menit membaca
Diperbarui: 6 Mei 2025
SEPEKAN setelah Joesoef Isak wafat 15 Agustus 2008 lampau, Umar Said selalu menelpon saya. Tiga kali seminggu! Dalam setiap pembicaraan, dia selalu menekankan pentingnya merawat warisan intelektual Joesoef Isak. Ketika terlontar gagasan Joesoef Isak Award, Umar langsung menyambut gembira rencana itu. “Kalau Mochtar Lubis saja ada award-nya, mosok wartawan sekaliber Joesoef Isak ndak ada,” kata dia dari seberang nun di Paris sana. Tak henti-henti Umar selalu mengingatkan jasa penting sahabatnya itu dalam menjebol tembok kekuasaan yang mengekang kebebasan menyatakan pendapat di negeri ini.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.












