- 20 Okt 2017
- 3 menit membaca
Diperbarui: 6 Agu
WAYANG Wong Menak diciptakan sebagai salah satu penanda pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Dramatari istana Jawa ini memberikan identitas budaya pada masa dia menjadi sultan di Keraton Yogyakarta.
Dosen seni tari Institut Seni Indonesia, Yogyakarta, Bambang Pudjasworo mengatakan, ketika naik takhta pada 1941, Sri Sultan HB IX merasa perlu adanya sebuah pembeda. "Karena [tari] bedaya, serimpi setiap sultan pasti bikin," ujar Bambang dalam acara “Golek Menak dalam Belantara Modernitas, Sarasehan dan Pentas Tari Pastha Anglari Pasthi,” di Bentara Budaya Jakarta, Kamis (19/10).
Tidak sama halnya dengan penciptaan dramatari. Wayang Wong misalnya, diproses sangat lama, dari Sultan HB I sampai HB III. Mereka masih memanggil kelompok penari dari desa untuk menunjukkan gerakan tari Wayang Wong. Naskah cerita Wayang Wong ditulis dalam bentuk Serat Kandha pada pemerintahan HB V. Bentuk Wayang Wong diselesaikan pada masa Sultan HB VII. Namun, kostum dan karakternya masih belum berkembang dan disempurnakan pada masa Sultan HB VIII.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















