top of page

Solusi Baru Buat Kota Renta

Mampukah Jokowi dan Ahok menuntaskan masalah Jakarta yang diwariskan dari zaman ke zaman?

loading_historia_white.gif
transparant.png

Foto: Micha Rainer Pali

19 Nov 2012
4 menit membaca

Diperbarui: 6 Mei 2025

SIANG itu, 20 September lalu, ruas Jalan Borobudur disesaki orang-orang berkemeja kotak-kotak. Mereka memenuhi halaman rumah bernomor 22 yang jadi posko tim sukses Joko Widodo dan Basuki T. Purnama, yang lebih dikenal dengan sebutan Jokowi-Ahok. Pilkada DKI Jakarta berlangsung dua putaran dan berakhir dengan kemenangan Jokowi-Ahok.


“Jokowi siapa yang punya... Jokowi siapa yang punya... yang punya kita semua..,” demikian para pendukung Jokowi-Ahok menyanyikan lagu kemenangan mereka.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
transparant.png
bottom of page