KUMIS bukan sekadar hiasan di wajah. Keberadaannya memiliki cerita yang berkaitan dengan sejarah peradaban manusia. Di Eropa, pada beberapa periode kumis melambangkan kejantanan, modernitas, kekuatan, dan keberanian. Tapi, di periode lain, rambut wajah ini dipandang sebelah mata dan dianggap tidak sesuai bagi kalangan bangsawan atau orang kaya.
Kumis juga dipengaruhi oleh kebijakan maupun kebiasaan seorang pemimpin. Pada abad ke-15, di awal Perang Italia, Raja Prancis Charles VIII dan Louis XII memelihara rambut panjang dan bercukur bersih. Sementara itu, Francis I dan Charles V yang menjadi penguasa Eropa di abad ke-16 kerap dilukis dengan janggut dan kumis serta rambut pendek. Penampilan tersebut menjadi tren yang menyebar ke seluruh Eropa.
Reginald Reynolds mencatat dalam Beards, popularitas kumis dan jenggot menurun di kalangan pria Eropa pada paruh awal abad ke-17. Tren di kalangan pria pada periode itu adalah memelihara rambut kepala hingga panjang, dengan ikal kecil di sisi, dikepang atau diikat.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















