top of page

Cerita di Balik Kumis

Kumis dalam sejarah masyarakat Eropa tidak semata-mata selera pribadi, tetapi juga dipengaruhi kontrol sosial hingga citra pahlawan militer yang heroik.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Empat orang dengan kumis di wajahnya berfoto bersama pada tahun 1900-an. (Wikimedia Commons)

1 hari yang lalu
6 menit membaca

KUMIS bukan sekadar hiasan di wajah. Keberadaannya memiliki cerita yang berkaitan dengan sejarah peradaban manusia. Di Eropa, pada beberapa periode kumis melambangkan kejantanan, modernitas, kekuatan, dan keberanian. Tapi, di periode lain, rambut wajah ini dipandang sebelah mata dan dianggap tidak sesuai bagi kalangan bangsawan atau orang kaya.


Kumis juga dipengaruhi oleh kebijakan maupun kebiasaan seorang pemimpin. Pada abad ke-15, di awal Perang Italia, Raja Prancis Charles VIII dan Louis XII memelihara rambut panjang dan bercukur bersih. Sementara itu, Francis I dan Charles V yang menjadi penguasa Eropa di abad ke-16 kerap dilukis dengan janggut dan kumis serta rambut pendek. Penampilan tersebut menjadi tren yang menyebar ke seluruh Eropa.


Reginald Reynolds mencatat dalam Beards, popularitas kumis dan jenggot menurun di kalangan pria Eropa pada paruh awal abad ke-17. Tren di kalangan pria pada periode itu adalah memelihara rambut kepala hingga panjang, dengan ikal kecil di sisi, dikepang atau diikat.


“Janggut runcing kekurangan peminat. Setelah tahun 1640, janggut yang lebat menjadi langka kecuali di kalangan pria paruh baya. Kumis hampir sepenuhnya menghilang dalam potret-potret khas kaum Puritan... Tetapi di masa pemerintahan Charles II kumis kembali tren –segaris tipis rambut wajah yang mengingatkan pada bintang film modern, menjadi simbol kejantanan yang seolah berkata, ‘aku bisa jika aku mau’,” tulis Reynolds.


Penampilan Charles II sebagai penguasa Inggris menjadi acuan bagi banyak pria dari kalangan atas. Tak butuh waktu lama hingga kumis tipis seperti milik sang raja menjadi tren dan simbol status kaum elite.


Menurut sejarawan Alun Withey dalam “A Hairy History of the Moustache”, yang termuat di History Extra, 2 November 2023, kumis tipis dan halus yang menjadi gaya populer para bangsawan pria di masa pemerintahan Raja Charles II, tidak hanya berfungsi sebagai hiasan yang memperindah penampilan serta mendongkrak rasa percaya diri, tetapi juga menjadi simbol kekayaan seseorang. Sebab, memelihara kumis tipis yang halus membutuhkan perawatan ekstra dan terus-menerus untuk menjaganya terlihat rapi.


Kumis dan Kolonialisme

Pada abad ke-18, beberapa bangsawan memandang tren memelihara kumis tidak menarik lagi. Bagi mereka, kumis atau janggut memberikan tampilan maskulin yang kasar dan dianggap lebih cocok untuk pria dari kalangan bawah.


Meski begitu masih ada pria yang memelihara kumis karena menganggapnya sebagai simbol prestise, representasi dari kejantanan dan kekuatan. Yang menarik, pertempuran antara penguasa lokal India dengan Inggris memberikan gambaran ketika kumis dan kolonialisme bertemu.


Menurut sejarawan Maya Jasanoff dalam Edge of Empire: Lives, Culture, and Conquest in the East, 1750-1850, Pertempuran Pollilur pada September 1780 merupakan salah satu perang paling menyakitkan bagi Inggris yang menghadapi kekuatan aliansi Prancis-Mysore. Di Pollilur, beberapa mil di luar Kanchipuram, pasukan Mysore mengepung satu detasemen tentara East India Company (EIC) yang dipimpin Kolonel Baillie. Para prajurit EIC menahan serangan Tipu Sultan, penguasa Mysore, sambil menantikan bala bantuan dari Jenderal Sir Hector Munro.


Pasukan Baillie bersorak gembira ketika melihat sejumlah prajurit berpakaian merah mengiringi pasukan grenadier Inggris muncul di belakang mereka. Sayangnya, para tentara itu bukan pasukan Munro, melainkan musuh yang hendak menyerang mereka. Terkepung dari segala arah, pasukan Baillie membentuk formasi persegi untuk menahan serangan kavaleri Mysore.


Di tengah pertempuran, pihak lawan melancarkan serangan menentukan dengan mengarahkan artileri ke lokasi amunisi Inggris. Tiga gerobak amunisi meledak dan mengakhiri harapan Inggris secara dramatis.


“Sir Hector Munro, yang kegagalannya tiba di lokasi menjadi faktor utama kekalahan, menyebut Pollilur sebagai ‘pukulan terberat yang pernah diderita orang Inggris di India.’ Sekitar tiga ribu tentara EIC tewas, sementara Baillie dan dua ratus orang Eropa –lima puluh di antaranya perwira– dibawa ke Seringapatam dalam keadaan dirantai,” tulis Jasanoff.


Tipu Sultan merayakan kemenangannya dengan memerintahkan seorang pelukis membuat mural yang menggambarkan pertempuran tersebut di istananya, Daria Daulat Bagh. Dalam mural itu, pasukan Mysore berbaris melintasi tembok dalam barisan megah, yang terdiri dari kavaleri bersenjata tombak dan pemanah berkuda, infanteri dengan sorban berwarna cerah, serta penembak meriam Eropa yang bersiap di balik meriam biru yang berat.


Di lain pihak, pasukan Inggris digambarkan hanya dua barisan lemah, yang terdiri dari kaki-kaki putih yang tertekuk dan punggung-punggung merah yang kaku. Banyak prajurit Inggris yang tergeletak, sekarat, tertusuk tombak, atau dipenggal oleh pasukan Tipu Sultan. Orang-orang Inggris tidak menyukai mural tersebut ketika melihatnya.


“Kontras antara dua kelompok pasukan yang mengenakan seragam merah dan celana putih ini mungkin tidak begitu jelas bagi mereka yang melihatnya saat ini, tetapi orang-orang pada masa itu pasti langsung memahami maksudnya: kumis –kumis yang melengkung, halus, dan bergaya India– pada setiap tentara Prancis, sama seperti sekutu mereka dari Mysore, serta kontras yang mencolok dengan tentara Inggris yang dicukur bersih tanpa cela,” tulis Jasanoff.


Menurut Debabrata Mukherjee dalam “The Moustache to Rule Them All”, termuat di Historic UK, mencukur kumis prajurit Inggris yang menjadi tawanan setelah Pertempuran Pollilur menjadi cara Tipu Sultan untuk mempermalukan musuhnya. Sebab, gagasan maskulinitas pada kumis membuat pria yang memilikinya dianggap telah dewasa dan jantan, sedangkan mereka yang tidak punya dipandang “belum sepenuhnya menjadi laki-laki”.


“Entah karena rasa jijik dari para pria India terhadap orang Inggris yang bercukur bersih, kebutuhan untuk menegaskan keunggulan ras Kekaisaran, atau sekadar karena mereka menyukai simbol maskulinitas ini, para prajurit Inggris mulai mengadopsi tanda kejantanan khas India tersebut. Demikianlah dimulai apa yang kemudian dikenal sebagai ‘gerakan kumis’,” tulis Mukherjee.


Meski begitu, gerakan menumbuhkan kumis masih dikecam karena dianggap meniru penduduk lokal. Oleh sebab itu, orang-orang Inggris diimbau tidak mengadopsi gaya tersebut. Pada 1843, kumis tebal milik perwira militer James Abbot menimbulkan keheranan, walaupun dia telah menunjukkan upaya heroik di penjuru-penjuru terpencil subkontinen India.


Gerakan Perlawanan dan Militer

Kumis memeroleh makna penting dalam dunia politik Eropa pada abad ke-19. Reynolds mencatat, pada Agustus 1830, warga Brussel berbaris melintasi jalanan sambil menyanyikan lagu populer Amour Sacré de la Patrie dan mengenakan kumis palsu sebagai lambang pemberontakan nasional.


Di Paris, kumis palsu juga muncul sebagai lambang perlawanan. Posisi kumis dalam masyarakat Jerman juga tak kalah menarik. Bila sebelum tahun 1848 kumis dianggap tanda aristokrasi, setelah revolusi, rakyat Jerman mulai menghilangkan tanda pembeda tersebut dengan menumbuhkan janggut dan kumis.


Meski memicu kontroversi, kumis juga kembali menjadi tren di Inggris. Perang Napoleon menjadi peristiwa yang mempercepat tumbuhnya gerakan memelihara kumis. Simon Harold Walker mencatat dalam Physical Control, Transformation and Damage in the First World War: War Bodies, tentara Prancis menghiasi wajahnya dengan kumis dan janggut yang membuat mereka mendapat julukan poilu yang berarti “pria jantan berjanggut”.


Selain itu, ketika Perang Krimea berlangsung pada Oktober 1853, pasukan Inggris diizinkan tidak mencukur rambut wajah guna melindungi diri dari cuaca yang sangat dingin. Saat perang berakhir tiga tahun kemudian, para prajurit yang kembali itu menjadi inspirasi.


“Selama perang di Krimea, janggut, kumis, dan cambang menjadi simbol keberanian dan tekad. Warga Inggris di tanah air mulai menata rambut wajah dengan gaya serupa sebagai bentuk solidaritas terhadap pahlawan mereka di medan perang,” tulis Mukherjee.


Pada 1860, kumis menjadi kewajiban di Angkatan Darat Inggris. Perintah No. 1695 dari peraturan kerajaan mewajibkan rambut wajah di area dagu dan bibir bawah untuk dicukur, sementara kumis boleh dipelihara tapi panjangnya harus disesuaikan. Setelahnya, kumis menjadi identik dengan seragam militer dan dinas militer.


Tidak hanya di kalangan militer, setelah pertengahan tahun 1850-an, kumis merambah masyarakat sipil. Cangkir kumis diciptakan pada 1860-an untuk menjaga kumis tetap kering saat minum teh. Bahkan, kumis dianggap memiliki manfaat kesehatan sebagai filter alami yang menangkap debu dan kuman sebelum masuk ke hidung dan tubuh.


Menurunnya Popularitas Kumis

Popularitas kumis mulai menurun pada akhir 1880-an. Bila sebelumnya rambut wajah bermanfaat sebagai filter alami, di masa itu kumis dan janggut justru dianggap sebagai sarang kuman dan bakteri. Para pria modis di London pun memilih mencukur rambut wajahnya. Munculnya pisau cukur sekali pakai, yang dicetuskan King Camp Gillette pada 1895, membuat tren memelihara kumis semakin ditinggalkan.


“Pukulan serius lainnya bagi janggut dan kumis datang pada awal Perang Dunia I. Sulit mengenakan masker gas jika memiliki rambut wajah, karena segelnya hanya berfungsi pada kulit yang bebas rambut. Mencari air bersih di garis depan juga sulit, sehingga mencukur menjadi suatu kemewahan. Selain itu, sebanyak 250.000 pemuda di bawah usia 18 tahun bertempur untuk Inggris dalam Perang Dunia I. Para rekrutan ini terlalu muda untuk memiliki kumis... Bahkan, sebelum perang dimulai pada 1914, sudah ada laporan mengenai pelanggaran perintah militer yang mewajibkan pemakaian kumis,” tulis Mukherjee.


Seiring berlanjutnya perang, sikap dan peraturan terkait kumis berubah. Pada 1913, Jenderal Nevil Macready menyuarakan pandangan sejumlah prajurit yang menganggap peraturan mengenai kumis dalam militer sudah tidak relevan. Meski ditentang dengan keras oleh Raja George, sebuah dewan militer dibentuk, dan pada 8 Oktober 1916 diputuskan bahwa kumis tidak lagi wajib di tentara Inggris.


“Peraturan kerajaan diubah dengan menghapus frasa ‘kecuali di bibir atas’. Keputusan tersebut ditandatangani oleh Jenderal Sir Nevil Macready, yang tidak menyukai kebiasaan memelihara kumis dan mampir ke sebuah salon cukur pada malam yang sama untuk memberikan contoh,” tulis Mukherjee.*

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Jauh di pedalaman hutan Papua yang terisolasi, sejumlah warga Lampung turut menjalani hidup sebagai tahanan politik. Salah satunya adalah Sjahmin Pandjinegara.
bg-gray.jpg
PKI memiliki tradisi intelektual yang kuat. Membawa gagasan ke tengah masyarakat melalui pendidikan dan pemberantasan buta huruf. Hasilnya menjadi salah satu partai terbesar.
bg-gray.jpg
Selama tiga dekade tinggal di Uni Soviet, Semaoen menggeluti berbagai profesi: penyiar radio, penerjemah, dosen, hingga wakil perdana menteri.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
Merekam situasi zaman dalam goresan pensil di atas selembar kertas.
Merekam situasi zaman dalam goresan pensil di atas selembar kertas.
Seperti negara-negara Asia lainnya, Bahrain mengenal sepakbola dari penjajah Inggris. Sudah dua kali timnasnya memberi pil pahit buat Indonesia.
Seperti negara-negara Asia lainnya, Bahrain mengenal sepakbola dari penjajah Inggris. Sudah dua kali timnasnya memberi pil pahit buat Indonesia.
Terlepas logis-tidaknya siklus kutukan atau kebetulan, Jerman mengulang rekor getir 80 tahun lampau.
Terlepas logis-tidaknya siklus kutukan atau kebetulan, Jerman mengulang rekor getir 80 tahun lampau.
Sosok legendaris dengan cap super-sub bertuah. Diharapkan mendongkrak performa Manchester United yang tengah gudrah.
Sosok legendaris dengan cap super-sub bertuah. Diharapkan mendongkrak performa Manchester United yang tengah gudrah.
Pantomim bukan sekadar bahasa bisu. Ia seni ekspresi dengan estetika yang tak semata memancing gelak tawa.
Pantomim bukan sekadar bahasa bisu. Ia seni ekspresi dengan estetika yang tak semata memancing gelak tawa.
Film yang kontekstual terkait kesenjangan sosial. Mendatangkan penghargaan Cannes seiring perayaan 100 tahun perfilman Korea.
Film yang kontekstual terkait kesenjangan sosial. Mendatangkan penghargaan Cannes seiring perayaan 100 tahun perfilman Korea.
transparant.png
bottom of page