- 21 Agu 2019
- 2 menit membaca
Diperbarui: 2 Jun
KOLONEL T.B. Simatupang hanya bisa merenung. Di sebuah gardu di Dusun Minggir di tepi Kali Progo, Yogyakarta, dia tak menyangka keadaan bisa berubah drastis dari waktu ke waktu tanpa bisa diprediksi. Simatupang tak pernah membayangkan tanggal 19 Desember 1948 kehidupannya berbeda jauh dari tanggal-tanggal sebelumnya di ibukota Yogyakarta akibat Agresi Militer Belanda.
“Kemarin tanggal 18 Desember saya masih mondar-mandir dalam mobil di Yogyakarta sebagai Wakil Kepala Staf Angkatan Perang. Sorenya, saya masih makan di Hotel Kaliurang sebagai ‘diplomat’ bersama-sama dengan anggota delegasi kita dan anggota KTN. Kemudian saya bertemu dengan Paduka Yang Mulia Wakil Presiden dari Republik Indonesia,” ujar Simatupang dalam catatan harian yang dimuat dalam memoarnya, Laporan Dari Banaran.
Selepas bertemu Bung Hatta di Kaliurang, Simatupang pulang ke rumahnya di Jalan Merapi No. 8. Hari sudah larut. Karena lelah, dia langsung berbaring di atas ranjangnya dan tertidur tanpa sempat mengganti pakaian.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















