- 15 Sep 2025
- 3 menit membaca
LETNAN Kolonel (Letkol) Herman Pieters mesti memutar otak dan berupaya keras. Komandan Resimen Infanteri ke-25 di Maluku –yang merupakan bagian dari komando Tentara dan Teritorium (TT) VII Wirabuana pimpinan Letnan Kolonel Ventje Sumual– menyaksikan kemunduran di tanah kelahirannya, Maluku, pada pertengahan 1950-an. Pasalnyaa, di zaman Hindia Belanda Maluku sudah punya sekolah guru dan sekolah menengah menterang, namun di masa Indonesia merdeka justru hanya punya SMA.
Wacana pembangunan perguruan tinggi di Maluku pun mengemuka, hingga akhirnya berdiri perguruan tinggi. Pada Juli 1955, muncul lembaga Yayasan Perguruan Tinggi Muluku di Ambon. Elien Utrecht dalam Melintasi Dua Zaman menyebut Herman Pieters sebagai orang yang memrakarsai pendirian kampus tersebut.
Pada permulaannya, yayasan itu diizinkan mendatangkan para dosen dari Jawa dan Makassar. Salah satu dosen yang dipinjamkan adalah Ernst Utrecht, ahli hukum Indo lulusan Leiden.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















