- Petrik Matanasi
- 29 Des 2025
- 3 menit membaca
SAMA-sama punya wajah Arab, nama pria ini mirip dekan Fakultas Ilmu Psikologi Universitas Indonesia yang kemudian jadi menteri di Kabinet Pembangunan V Soeharto: Fuad Hassan. Namun, usia keduanya bertaut jauh, juga profesinya. Fuad yang akademisi kelahiran Semarang, 26 Juni 1929, sementara Fuad yang ini kelahiran Yogyakarta, 24 Agustus 1942. Fuad “senior” berprofesi akademisi kemudian politisi, sedangkan Fuad “junior” tukang gebuk drum.
Fuad “drummer” menjadi yatim ketika masih kecil. Fuad kecil lalu ikut keluarganya pindah dari Yogyakarta ke Bogor. Menurut Camelia Malik, Fuad terakhir bersekolah di STM 1. Sekolah teknik menengah tempat Fuad belajar itu kemungkinan dulunya STM Negeri 1 Jakarta yang kini berada di Jalan Budi Utomo, dikenal sebagai STM Boedoet.
Fuad suka sepakbola dan tinju, namun dia lebih dikenal jago drum. Sebagai pemain drum, dirinya berpindah-pindah band sejak muda. Majalah Aktuil nomor 149 tahun 1974 mencatat: pada 1962 Fuad ikut band Pandawa, lalu pindah ke Zaenal Combo setahun kemudian, pada 1964 ke Medenazz, dan pada 1965 ke Dieselina. Sedari 1966 hingga 1968, Fuad memperkuat The Pro’s. The Pros kependekan dari The Profesional, dengan Dimas Wahab sebagai pendiri sekaligus pemain bass-nya. Dimas Wahab adalah ayah dari tiga personil band Bragi yang sohor di era 1990-an.
Pada 1968, Fuad berkelana ke Eropa. Di sana dia bermain untuk band Black Bird dari Italia.
“Di sana gue nonton Grand Funk, Led Zeppelin, Black Sabath. Semuanya satu aliran dan mereka mempunya showmanship yang hebat dan merupakan musisi kelas satu,” kenang Fuad Hassan, dikutip Aktuil nomor 81 tahun 1971.
Fuad suka musik rock, yang –dianggap underground–mulai mendunia akhir 1960-an. Namun, selama bertahun-tahun Fuad bermusik di jalur pop meski musik pop yang terpengaruh Barat mengalami tantangan tersendiri di Indonesia pada paruh pertama 1960-an.
Fuad tak sulit mencari band untuk bertahan hidup sepulangnya ke Indonesia dari Eropa. Pada 1971-1972, Fuad ditampung Gypsy. Band yang terdiri dari Nasution bersaudara dari Pegangsaan itu pada awal 1970-an sudah mulai bereksplorasi. Fuad tentu punya alasan masih terus bermain di pop.
“Hati gue sih pada underground akan tetapi lantaran cari duit, untuk komersil, maka gue jadi drumer pop,” aku Fuad di Aktuil 81.
Menjadi drummer pop dipilih Fuad bukan tanpa alasan. Pada 1971, Fuad sudah punya istri –yakni Fitria, juga berdarah Arab sepertinya– dan dua anak yang mesti dinafkahinya. Fuad juga tak hanya harus menghidupi anak istrinya, dia masih ingat adik-adiknya juga.
Kepulangan kakak iparnya dan kawannya yang bertahun-tahun bermusik di Belanda pada 1971 mempengaruhi jalan hidup Fuad. Saat itu, Ahmad Albar sedang berlibur ke Jakarta bersama Ludwig Lemans. Keduanya adalah pentolan band Clover Leaf yang sudah populer di Belanda akhir 1960-an. Ahmad Albar alias Iyek adalah vokalis dan Ludwig Lemans gitarisnya. Di Jakarta keduanya lalu membangun band baru dengan mengajak Fuad, Donny Fattah pada bass dan Deddy Dores pada keyboard. Sebelumnya Deddy memperkuat Freedom of Rhapsodia yang sohor karena lagu “Hilangnya Seorang Gadis”. Donny juga pemain bass yang berkarakter di Jakarta.
Band yang dibangun Ahmad Albar dan kawan-kawan itu dengan cepat dikenali dan dapat panggung. Pada 3 Mei 1973 band tersebut sudah manggung di Taman Ismail Marzuki, lalu pada 16 Agustus 1973 manggung di Inter Studio Pasar Minggu dalam Semarak Kemerdekaan RI ke-28 alias Summer 28.
“Saat tampil di ajang Summer 28, formasi band baru ini belum memakai nama God Bless,” catat Alex Palit dalam God Bless and You-Rock Humanisme.
Mereka memakai nama Crazy Wheels awalnya. Nama itu kemudian diganti menjadi God Bless. Jadi, Fuad adalah drumer pertama God Bless.
Ketika Deddy dan Fuad di sana, God Bless belum merilis album meski sudah besar namanya. Namun, Deddy dan para anggota God Bless kecuali Achmad Albar merilis album pop Tinggal Kenangan. Deddy dan kawan-kawan memakai bendera Deddy Dores and The Road. Deddy bernyanyi dan main keyboard dalam proyek bertahan hidup itu. Fuad yang bermain drum cukup senang ikut proyek ini.
Awal 1970-an, Fuad dianggap salah satu drummer terbaik. Majalah Aktuil menyebutnya sebagai sebagai drummer terbaik selama beberapa tahun sebelum kematiannya.
Kendati senang, pujian itu tak membuat Fuad lupa daratan. Ia menanggapinya dengan rendah hati.
“Masing-masing punya keistimewaan sendiri-sendiri,” kata Fuad kepada Aktuil 81.
Namun, bagi orang lain Fuad tetap bukan sembarang drummer. Dimas Wahab menganggapnya perfeksionis ketika bermain di band. Hingga kematiannya pada 9 Juli 1974 bersama Soman Lubis di bilangan Pancoran, Fuad masih dianggap drummer terbaik Indonesia.*













Komentar