top of page

Fragmen DI/TII dalam Film Darah dan Doa

Seorang prajurit diperintahkan mengeksekusi ayahnya sendiri, anggota DI/TII yang menyerang Divisi Siliwangi.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Kiri: Kapten Soedarto (Del Juzar) dan Kapten Adam (R. Soetjipto). Kanan: Sersan Sumbara Karta mengeksekusi ayahnya sendiri karena menjadi anggota DI/TII. Foto: jurnalfootage.net.

29 Sep 2017
3 menit membaca

Diperbarui: 24 Jul

KH Said Aqil Siraj ikut berkomentar soal polemik penayangan kembali film Pengkhianatan G30S/PKI. Saat mengumumkan persiapan pelaksanaan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar NU 2017, Jumat (22/9/2017), Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu menyatakan setuju dengan penayangan kembali film itu sebagai bahan refleksi sejarah. Dia juga sepakat pada ide pembuatan ulang film tersebut.


Hanya saja, Said Aqil menambahkan, kini sudah saatnya dibuat pula film-film lain yang juga menggambarkan peristiwa kelam yang penting dalam sejarah Indonesia. Dia menyebut perlunya dibuat film sejarah tentang pemberontakan yang dilakukan oleh DI/TII pimpinan SM Kartosoewiro, PRRI-Permesta, dan pemberontakan PKI di Madiun 1948, serta sejumlah peristiwa-peristiwa terorisme seperti bom Bali.


Film-film tentang peristiwa sejarah kelam yang dialami Indonesia bukannya belum pernah dibuat. Setidaknya peristiwa pemberontakan DI/TII menjadi bagian cerita dalam film Darah dan Doa (1950). Film besutan Usmar Ismail itu merekam peristiwa long march Divisi Siliwangi dari Jawa Tengah kembali ke pos-pos mereka di Jawa Barat pada Desember 1948.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
transparant.png
bottom of page