top of page

Habibie Kecil dan Soeharto Muda

Dua pertemuan B.J. Habibie dan Soeharto yang berkesan. Membuka jalan kerjasama untuk pembangunan.

loading_historia_white.gif
transparant.png

B.J. Habibie (tengah) saat kediaman ibunya di Bandung dikunjungi Presiden Soeharto. (Koleksi Keluarga Habibie).

13 Sep 2019
3 menit membaca

Diperbarui: 3 Sep

BACHARUDDIN Jusuf Habibie tak dibiarkan menunggu terlampau lama di ruang tamu kediaman Soeharto, Jalan Cendana. Hanya berselang beberapa menit setelah tiba pada pukul 7 malam, 28 Januari 1974 itu, ia bersua (kembali) dengan sosok Bapak Pembangunan itu.


Itu pertemuan ketiga dan paling dinanti. Pada Agustus 1973, saat masih di berkarier di Jerman, Habibie diminta pulang Soeharto lewat kakak iparnya, Brigjen Subono Mantofani. Namun baru di akhir Januari itulah ia bisa bertatap muka lagi dengan Soeharto. Ketika bersua, salam dan sikap hormat Habibie disambut jabat tangan hangat sang presiden.


“Habibie saya tahu dan mengenal kamu, sekarang kamu harus membantu saya menyukseskan pembangunan. Yang penting bagi saya adalah teknologi. Coba kamu cari jalan,” kata Soeharto pada Habibie.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
transparant.png
bottom of page