- 29 Jan
- 4 menit membaca
Diperbarui: 15 Mei
SAAT ini banyak orang memanfaatkan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligent (AI) untuk banyak hal, mulai dari mencari lokasi, mengatur keuangan, membantu menyelesaikan pekerjaan hingga sarana untuk edukasi. Namun, lebih dari delapan dekade lalu gagasan pengembangan kecerdasan buatan dianggap sebagai hal yang sulit, jika tidak bisa dibilang mustahil.
Ilmuwan yang berperan dalam pengembangan kecerdasan buatan adalah Alan Mathison Turing. Ia dikenal sebagai ilmuwan yang membantu Sekutu memenangkan Perang Dunia II. Kriptografer di Sekolah Kode dan Sandi Pemerintah Inggris di Bletchley Park itu berpandangan bahwa sebuah mesin komputasi abstrak yang terdiri dari memori tak terbatas dan pemindai yang bergerak bolak-balik melalui memori, simbol, dan mampu membaca apa yang ditemukan serta menulis simbol-simbol tambahan mungkin akan tercipta.
Pria kelahiran London, 23 Juni 1912 itu mengembangkan gagasannya mengenai sebuah mesin universal sejak tahun 1930-an sebelum Perang Dunia II. “Saat ini, mungkin sudah menjadi hal yang lumrah bahwa komputer dapat menggantikan mesin lain, baik untuk pencatatan, fotograf, desain grafis, telepon, surat menyurat, atau musik, melalui perangkat lunak yang tepat yang diciptakan dan dijalankan... Namun, universalitas seperti itu belum terlihat seperti hal yang mungkin bagi siapa pun di tahun 1930-an... untuk menjadi komputer serbaguna, komputer harus memungkinkan penyimpanan dan penguraian program,” tulis matematikawan Inggris, Andrew Hodges dalam Alan Turing: The Enigma.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















