- Amanda Rachmadita
- 39false55 GMT+0000 (Coordinated Universal Time)
- 4 menit membaca
SAAT ini banyak orang memanfaatkan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligent (AI) untuk banyak hal, mulai dari mencari lokasi, mengatur keuangan, membantu menyelesaikan pekerjaan hingga sarana untuk edukasi. Namun, lebih dari delapan dekade lalu gagasan pengembangan kecerdasan buatan dianggap sebagai hal yang sulit, jika tidak bisa dibilang mustahil.
Ilmuwan yang berperan dalam pengembangan kecerdasan buatan adalah Alan Mathison Turing. Ia dikenal sebagai ilmuwan yang membantu Sekutu memenangkan Perang Dunia II. Kriptografer di Sekolah Kode dan Sandi Pemerintah Inggris di Bletchley Park itu berpandangan bahwa sebuah mesin komputasi abstrak yang terdiri dari memori tak terbatas dan pemindai yang bergerak bolak-balik melalui memori, simbol, dan mampu membaca apa yang ditemukan serta menulis simbol-simbol tambahan mungkin akan tercipta.
Pria kelahiran London, 23 Juni 1912 itu mengembangkan gagasannya mengenai sebuah mesin universal sejak tahun 1930-an sebelum Perang Dunia II. “Saat ini, mungkin sudah menjadi hal yang lumrah bahwa komputer dapat menggantikan mesin lain, baik untuk pencatatan, fotograf, desain grafis, telepon, surat menyurat, atau musik, melalui perangkat lunak yang tepat yang diciptakan dan dijalankan... Namun, universalitas seperti itu belum terlihat seperti hal yang mungkin bagi siapa pun di tahun 1930-an... untuk menjadi komputer serbaguna, komputer harus memungkinkan penyimpanan dan penguraian program,” tulis matematikawan Inggris, Andrew Hodges dalam Alan Turing: The Enigma.
Pengembangan komputer atau mesin elektronik universal membutuhkan tingkat kerumitan logika tertentu. Logika tersebut, yang pertama kali dibuat oleh Alan Turing pada 1936, diimplemetasikan secara elektronik pada 1940-an. Saat ini diwujudkan dalam microchip, yang merupakan ide matematis dari mesin universal.
“Pada 1930-an, hanya segelintir kecil ahli logika matematika yang dapat memahami ide-ide Turing. Namun, di antara mereka, hanya Turing sendiri yang memiliki dorongan praktis, mampu beralih dari penjelasan definitif ke rekayasa perangkat lunak tahun 1946: ‘Setiap proses yang diketahui harus diterjemahkan ke dalam bentuk tabel instruksi.’... Donald Davies, salah satu rekan Turing pada 1946, kemudian mengembangkan tabel instruksi untuk ‘packet switching’, dan ini berkembang menjadi protokol internet,” jelas Hodges.
Gagasan mengembangkan mesin cerdas tidak berhenti meski Alan Turing terlibat dalam upaya memecahkan sandi dan kode musuh pada masa Perang Dunia II. Di Bletchley Park, Turing menggambarkan ide tentang mesin cerdas dengan merujuk pada catur. Secara teori, komputer yang diprogram untuk bermain catur dapat bermain dengan mencari secara menyeluruh melalui semua langkah yang tersedia, tetapi secara praktis tidak mungkin karena akan melibatkan peninjauan jumlah langkah yang begitu banyak. Oleh sebab itu, heuristik diperlukan untuk mengarahkan pencarian yang lebih selektif.
Meskipun Alan Turing bereksperimen dengan merancang program catur, ia harus puas dengan teori karena tidak memiliki komputer untuk menjalankan program caturnya. Dengan demikian, pengembangan program kecerdasan buatan baru dapat dilakukan dengan munculnya komputer elektronik digital yang dapat menyimpan dan menjalankan program.
Sementara itu, menurut akademisi George F. Luger dan William A. Stubblefield dalam Artificial Intelligence and the Design of Expert Systems, salah satu artikel pertama yang membahas pertanyaan tentang mesin cerdas secara khusus dalam kaitannya dengan komputer digital modern ditulis Alan Turing pada 1950. Turing, yang dikenal karena kontribusinya terhadap teori komputabilitas, mempertimbangkan pertanyaan apakah mesin sebenarnya dapat dibuat untuk berpikir.
“Menyadari bahwa ambiguitas mendasar dalam pertanyaan itu sendiri (Apa itu berpikir? Apa itu mesin?) menghalangi jawaban rasional, Turing mengusulkan agar pertanyaan tentang kecerdasan digantikan dengan uji empiris yang lebih jelas didefinisikan,” tulis Luger dan Stubblefield.
Alan Turing mengukur kinerja mesin cerdas dengan membandingkannya dengan manusia, yang dianggap sebagai standar terbaik dan satu-satunya untuk meninjau perilaku dan kemampuan berpikir cerdas. Uji ini, yang disebut Turing sebagai imitation game, menempatkan mesin dan manusia dalam ruangan terpisah dari manusia lain yang disebut penguji atau interogator. Dalam proses pengujian ini, interogator tidak melihat atau berbicara langsung dengan keduanya, sehingga tidak tahu mana mesin mana manusia, dan hanya berkomunikasi dengan mereka melalui keyboard dan layar tampilan.
Dalam uji ini interogator diminta membedakan komputer dari manusia hanya berdasarkan jawaban mereka atas pertanyaan yang diajukan melalui perangkat tersebut. Ia bebas mengajukan pertanyaan seluas mungkin, dan komputer diperbolehkan melakukan segala upaya untuk memberikan identifikasi yang tidak sesuai –misalnya, komputer mungkin menjawab “tidak” ketika ditanya “apakah Anda komputer?” dan mungkin menanggapi permintaan untuk mengalikan dua angka besar dengan jeda panjang dan jawaban yang salah. Di sisi lain, manusia yang menjadi lawan bicara harus membantu interogator untuk melakukan identifikasi yang benar. Jika interogator tidak dapat secara tepat membedakan mesin dari manusia, maka, menurut Turing, mesin tersebut dapat dianggap cerdas.
“Dengan memisahkan interogator dari mesin dan peserta manusia lainnya, uji ini memastikan bahwa interogator tidak akan terpengaruh oleh penampilan mesin atau sifat mekanis apapun dari suaranya. Namun, pewawancara bebas melakukan tugas pemecahan masalah yang bersifat simbolis. Uji ini tidak dilakukan untuk menguji kemampuan yang memerlukan keterampilan perseptual atau ketangkasan manual, meskipun komponen-komponen ini penting dalam kecerdasan manusia. Sebaliknya, kadang-kadang disarankan bahwa uji Turing secara tidak perlu membatasi kecerdasan mesin agar sesuai dengan pola manusia,” jelas Luger dan Stubblefield.
Kecerdasan memang menjadi inti dari pengembangan AI, tetapi menurut ilmuwan komputer George Kuttickal Chacko dalam Robotics/Artificial Intelligence/Productivity, orientasinya lebih pragmatis daripada filosofis, di mana tujuan kecerdasan buatan adalah membuat komputer lebih berguna dan memahami prinsip-prinsip yang membuat mesin cerdas menjadi mungkin. Dalam hal ini, Alan Turing menyarankan bahwa mesin yang cerdas akan mampu membedakan antara jawaban sekelompok masalah yang diberikan oleh manusia dan mesin.
Mesin Alan Turing, yang ditandai dengan kesadarannya akan dirinya sendiri, mencerminkan ciri khas pengetahuan yang diidentifikasi oleh Confusius bahwa, “ketika kamu tahu sesuatu, akui bahwa kamu tahu, dan ketika kamu tidak tahu sesuatu, akui bahwa kamu tidak tahu –itulah pengetahuan,” tulis Chacko.*












Komentar