- Randy Wirayudha

- 2 jam yang lalu
- 4 menit membaca
PEMERINTAH Provinsi (Pemprov) Jakarta memperpanjang Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) hingga hari ini, Selasa (27/1/2026). Tujuannya untuk terus menekan potensi curah hujan tinggi yang bisa berdampak pada banjir atau bencana hidrometeorologi lain di Jakarta dan sekitarnya.
OMC itu dilakoni Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jakarta, TNI Angkatan Udara, dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dengan metode cloud seeding atau penyemaian awan. Simpelnya, OMC dijalankan oleh tiga kali penerbangan menggunakan pesawat yang akan menaburkan garam dan zat kapur ke awan untuk mengurangi curah hujan.
“OMC di Jakarta ini merupakan bagian dari upaya penanganan siaga darurat bencana hidrometeorologi di wilayah Provinsi DKI Jakarta dan sekitarnya. Sebelumnya, OMC juga telah dilaksanakan pada 13-19 Januari 2026 dengan menyemai 21,4 ton NaCL dan 7,4 ton CaO pada total 31 sorti,” terang Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto dalam rilis BMKG di laman resminya.
Sebelumnya, OMC sempat mendapat kritikan. Salah satunya dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), yang menyatakan bukan sekadar solusi teknis jangka pendek namun juga akan berpotensi mengakibatkan masalah kesuburan tanah dan sumber air tanah.

Eksperimen dari Texas hingga Negeri Siam
Modifikasi cuaca, baik untuk memuai curah hujan atau mandatangkan hujan untuk kepentingan pertanian, bukanlah barang baru. Upaya pertama pernah dicoba Jenderal (Purn.) Robert St. George Dyrenforth, pejabat Departemen Pertanian Amerika Serikat pada 1891.
Menurut Willy Ley di kolom majalah bulanan Galaxy edisi Februari 1961, “Let’s Do Something About the Weather”, Dyrenforth menjajal sebuah eksperimen untuk mendatangkan hujan. Berbekal membaca banyak catatan sejarah, ia datang dari ibukota Washington DC ke negara bagian Texas membawa serta bubuk mesiu dan bahan-bahan peledak senilai 9 ribu dolar.
“Eksperimen itu terinspirasi dari cerita yang datang dari Perang Saudara, yang kira-kira berawal di Eropa seabad sebelumnya. Para veteran Perang Tujuh Tahun (Perang Napoleon 1756-1763, red.) mengatakan kepada semua orang yang mau mendengarkan cerita mereka, bahwa setiap sehabis pertempuran besar pasti terjadi hujan deras. Cerita serupa muncul lagi setelah Perang Saudara (1861-1865) di belahan bumi barat,” tulis Ley.
Kisah-kisah itu lantas dikumpulkan, dihimpun, dan dibukukan oleh Edward Powers dalam War and the Weather (1871). Dari sinilah Dyrenforth mendapatkan inspirasi eksperimennya. Teori sederhananya: asap dan uap yang ditimbulkan dari meriam-meriam di pertempuran melayang ke udara dan “merangsang” awan untuk mengguyurkan hujannya ke bumi.
Dyrenforth melakoni eksperimennya pada musim panas 1891 di sebuah lahan kosong di High Plains, Texas. Bahan-bahan peledak lalu diledakkannya. Bubuk mesiunya pun diisi ke meriam-meriam tanpa peluru dan juga ditembakkan ke udara.
“Pada akhirnya memang terjadi hujan setelah beberapa barel bubuk mesiu diledakkan. Namun banyak warga lokal Texas yang menyaksikan menyatakan bahwa memang pada masa itu sudah akan waktunya hujan. Tak ada yang banyak bisa dikatakan Jenderal Dyrenforth untuk menjawabnya. Meningkatnya curah hujan setelah itu tidak bisa dikatakan ditentukan oleh eksperimen itu,” imbuhnya.
Seiring bergulirnya zaman dan pesatnya teknologi, riset hingga eksperimen modifikasi cuaca mulai sering dilakoni via udara (cloud seeding). Kala itu metode tersebut untuk “memanggil” hujan dengan menggunakan material-material higroskopis atau senyawa-senyawa yang mudah menyerap seperti perak iodida (Agl), kalium iodida (KI), es kering, hingga garam dapur (NaCl).
Pada 1930-an, trio ilmuwan Alfred Wegener-Tor Bergeron-Walter Findeisen meluncurkan teori bahwa kristal es jika ditembakkan ke atas awan akan memicu hujan. Teori tersebut lantas terkonfirmasi secara tak sengaja oleh pakar kimia dan fisika Laboratorium Riset General Electric, Vincent Schaefer dan Irvin Langmuir, pada 1946 kala tengah meriset tentang airframe icing atau lapisan es di luar struktur pesawat.
“Dr. Schaefer pada November 1946 mulai mencoba menebarkan es kering kristal ke awan dari udara. Ya, es kristalnya tumbuh dan membuat hujan. Tak lama kemudian periset lainnya, Dr. Bernard Vonnegut juga menemukan bahwa kristal-kristal perak iodida lebih efisien ketimbang es atau es kering. Kristal-kristal perak iodida akan memicu terbentuknya es di suhu yang lebih tinggi dari air es atau kes kering,” tambah Ley.
Setelah militer AS kemudian memanfaatkannya untuk operasi-operasi militer, metode ini mulai diikuti negara-negara lain. Salah satu yang paling awal adalah negara yang sekawasan dengan Indonesia, Thailand.
Negeri Siam mengalami kekeringan pada 1950-an. Maka Raja Bhumibol Adulyadej pada November 1955 menginisiasi dibentuknya Khrongkhan Fon Luang alias Proyek Pembuatan Hujan Kerajaan. Proyeknya didanai sendiri dari harta pribadi sang raja.
“Ia (raja) mempercayakan M.R. Debariddhi Devakula, pakar insinyur pertanian di Kementerian Pertanian dan Koperasi, untuk memimpin risetnya. Ia melakukan riset intensif dan eksperimen dari banyak ragam pengaplikasian di banyak negara, termasuk AS, Australia, dan Israel,” tulis Chamnong Pakaworawuth dalam King Bhumibol and His Enlightened Approach to Teaching.
Proyek itu jadi tanggung jawab Departemen Pembuatan Hujan dan Penerbangan Pertanian Kerajaan yang dimulai pada 1959. Butuh satu dekade untuk kemudian proyek itu bisa diujicobakan. Dengan disaksikan langsung oleh sang raja, percobaan pertama dilakukan di Taman Nasional Khao Yai pada 20 Juli 1969.
Metode penyemaian awan dengan pesawat via menebar senyawa-senyawa garam hingga es kering ke atas awan dilaporkan berhasil “menciptakan” hujan. Pada 2009, Yordania negara kedua yang mengaplikasikannya dengan seizin Raja Bhumibol. Baru pada 2005 metode itu dipatenkan atas nama Raja Bhumibol.
Pengaplikasiannya bisa juga untuk modifikasi kebalikannya. Bahkan Indonesia sendiri sudah mengikutinya pada 2013, baik untuk memicu hujan guna memadamkan asap dan kabut akibat kebakaran hutan di Sumatra, maupun mengurangi curah hujan demi menanggulangi bencana banjir.*













Komentar