top of page

27 Januari 1997: Kerusuhan di Pasar Tanah Abang

Muak dengan pungutan liar, pedagang pasar Tanah Abang mengamuk. Mobil dinas dan kantor kecamatan Tanah Abang dibakar. Salah satu kerusuhan terbesar di Jakarta pada pengujung Orde Baru.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Kerusuhan di Pasar Tanah Abang, 27 Januari 1997. (Bali Post).

28 Jan
3 menit membaca

Diperbarui: 14 Mei

PADA Senin, 27 Januari 1997, tepat 30 tahun yang lalu, kerusuhan hebat melanda wilayah Tanah Abang. Pasar Tanah Abang yang biasanya disesaki pedagang dan pengunjung tampak mencekam. Api berkobar dari kendaraan-kendaran yang luluh-lantak. Hari itu, para pedagang Tanah Abang berada di puncak kemarahannya sebagai bentuk perlawanan terhadap pungli atau pungutan liar


“Tanah Abang rusuh,” lansir Berita Yudha, 28 Januari 1997, “7 mobil, 1 sepeda motor, dan Kantor Kecamatan Tanah Abang dibakar dan dirusak.” 


Dari tujuh mobil plat merah yang dibakar, enam milik Dinas Ketentraman dan Ketertiban (Trantib) serta satu mobil milik wakil camat Tanah Abang. Sebagai pusat perputaran uang di Jakarta Pusat, kerusuhan di Pasar Tanah Abang menyebabkan roda ekonomi lumpuh. Ribuan toko di seluruh blok di Tanah Abang tutup seketika. Kantor camat Tanah Abang dirusak sehingga beberapa dokumen hilang dan terbakar. Selain itu, lalu lintas terpaksa ditutup dari arah Jl. KH Mas Mansyur, Jl. Jati Baru, dan Jl. Petamburan dari pagi hingga tengah hari. Kerugian materil diperkirakan mencapai Rp1,5 miliar. 

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
transparant.png
bottom of page