top of page

“Kabur Aja Dulu” Ala George de Fretes

Demi bisa bebas bermusik, George de Fretes minggat dari Indonesia. Jadi legenda dalam musik Hawaiian.

loading_historia_white.gif
transparant.png

George de Fretes dan Suara Istana. (discogs.com).

6 Okt 2025
3 menit membaca

Diperbarui: 2 Mar

KAPAL motor Johan van Oldebarnevelt angkat jangkar dari Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, pada 17 Mei 1958. Kapal itu hendak bertolak ke Negeri Belanda. Dalam perjalanan, ternyata ada 27 penumpang gelap di dalamnya. Salah satu di antaranya seorang pria Ambon. Dia memilih “jalan belakang” lantaran enam kali upaya pengajuan visanya semua ditolak.

 

“Jalan belakang” diupayakan oleh kawan-kawannya yang polisi. Mereka mengaturnya naik Johan van Oldebarnevelt dengan modal boarding pass untuk izin naik kapal saja seperti penumpang gelap lain. Namun ada satu syarat yang harus dipenuhi untuk bisa begitu. Yakni si calon penumpang harus bekerja di kapal dengan imbalan minum dan makan gratis.

 

Demi bisa menaiki kapal, pekerjaan itu pun dilakoni George de Fretes, pria Ambon yang jadi penumpang gelap tadi. George bernama lengkap Frits George Karel de Fretes. Dia lahir di Bandung, 23 Desember 1921. Koran Deventer Dagblad tanggal 15 November 1958 menyebut dia anak seorang pegawai negeri. Dari Bandung, keluarganya kemudian pindah ke Jakarta.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Djalimin was sentenced to 15 years in prison for killing a Dutch man who was about to rape her. A question posed by a member of the Indonesian House of Representatives to the government led to her release.
bg-gray.jpg
Bersama Henk Sneevliet, Adolf Baars mempelopori komunisme di Indonesia. Takdir keduanya setali tiga uang, berakhir tragis di tangan Nazi.
bg-gray.jpg
Jauh di pedalaman hutan Papua yang terisolasi, sejumlah warga Lampung turut menjalani hidup sebagai tahanan politik. Salah satunya adalah Sjahmin Pandjinegara.
bg-gray.jpg
PKI memiliki tradisi intelektual yang kuat. Membawa gagasan ke tengah masyarakat melalui pendidikan dan pemberantasan buta huruf. Hasilnya menjadi salah satu partai terbesar.
Negeri-negeri yang bergulat dari masa transisi menuju demokrasi, kejahatan kemanusian di masa lalu acap menjadi beban di masa kini.
Negeri-negeri yang bergulat dari masa transisi menuju demokrasi, kejahatan kemanusian di masa lalu acap menjadi beban di masa kini.
Bergabung dengan NATO bukan hanya jadi masalah buat Presiden Rusia Vladimir Putin. Tujuh puluh tahun silam, hal itu juga menjadi masalah warga Islandia.
Bergabung dengan NATO bukan hanya jadi masalah buat Presiden Rusia Vladimir Putin. Tujuh puluh tahun silam, hal itu juga menjadi masalah warga Islandia.
Bahu-membahu di bawah panji Unifikasi. Melebur jadi satu dengan menghayati lagu “Arirang”.
Bahu-membahu di bawah panji Unifikasi. Melebur jadi satu dengan menghayati lagu “Arirang”.
Arsenal merayakan FA Cup tanpa euforia penonton di Wembley. Berbeda jauh dari suasana final di stadion ikonik itu 97 tahun silam.
Arsenal merayakan FA Cup tanpa euforia penonton di Wembley. Berbeda jauh dari suasana final di stadion ikonik itu 97 tahun silam.
Orang-orang Melanesia menyanyikan lament untuk bangkit dari duka. Menjadi sejarah lisan perjalanan manusia dalam mempertahankan hidup.
Orang-orang Melanesia menyanyikan lament untuk bangkit dari duka. Menjadi sejarah lisan perjalanan manusia dalam mempertahankan hidup.
Yang kita butuhkan, mungkin, bukan Nelson Mandela tapi kemauan dan keberanian untuk menebus dosa masa lalu dengan berbagai cara yang bisa memenuhi rasa keadilan.
Yang kita butuhkan, mungkin, bukan Nelson Mandela tapi kemauan dan keberanian untuk menebus dosa masa lalu dengan berbagai cara yang bisa memenuhi rasa keadilan.
transparant.png
bottom of page