top of page

Kembalinya Trah Ken Angrok di Periode Akhir Majapahit

Percaturan keturunan Ken Angrok masih terus terjadi hingga masa akhir Majapahit.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Lambang Surya Majapahit.

30 Okt 2018
3 menit membaca

WISNUWARDHANA naik takhta didampingi Narasinghamurti sebagai pembantu utama raja. Keduanya memerintah bagaikan dua naga dalam satu lubang yang membawa damai di negeri Singhasari. Antara keturunan Tunggul Ametung dan keturunan Ken Angrok untuk sementara tak lagi berebut panggung. Namun, asal-usul itu kembali dianggap penting ketika Kerajaan Majapahit mencapai ujung kisahnya.


Sebelumnya, keturunan Tunggul Ametung dan keturunan Ken Angrok saling curiga dan saling tusuk demi duduk di singgasana. Sampai Wisnuwardhana, keturunan Tunggul Ametung dan Ken Dedes, memerintah bersama Narasinghamurti, keturunan Ken Dedes dan Ken Angrok.


“Kekuatan yang dibangun segitiga. Ken Dedes di tengah, Ken Angrok di kanan, Tunggul Ametung di kiri, sampai kemudian (menurunkan, red.) Kertanagara lalu Majapahit,” kata Dwi Cahyono, dosen sejarah Universitas Negeri Malang.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
transparant.png
bottom of page