top of page

Lukisan yang Tak Bersih Lingkungan

Sukarno banyak mengoleksi lukisan pelukis kiri. Dianggap berbahaya, Orde Baru menggudangkannya.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Lukisan "Kawan-Kawanku" karya Amrus Natalsya. (archive.ivaa-online.org).

6 Okt 2020
2 menit membaca

KECINTAAN pada seni dan hobi mengoleksi barang seni membuat Sukarno menjadikan Istana Negara sedikit demi sedikit dipenuhi berbagai koleksi seni, termasuk lukisan, sejak dihuninya pada 1950. Lebih dari 2000 lukisan koleksi pribadi Sukarno dipajang di Istana.


Sukarno gandrung mengoleksi lukisan yang dianggapnya revolusioner. Banyak di antaranya adalah lukisan-lukisan karya seniman Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Namun, pergantian rezim mengubah wajah istana. Lukisan-lukisan koleksi Sukarno yang dianggap “kiri” bernasib nelangsa. Orde Baru menyingkirkannya.


Agus Dermawan T. menyebut dalam Dari Lorong-lorong Istana Presiden, penyingkiran terhadap lukisan koleksi Sukarno dilakukan sejak awal rezim Soeharto berkuasa.


“Sejak 1968, lukisan karya para seniman ‘aroma Lekra’ yang ada di Istana Presiden mulai dipinggirkan –sebuah kebijakan yang sah dan masuk akal dari aspek politik,” tulis Agus.


Lukisan Kawan-kawanku (1957) karya pendiri Sanggar Bumi Tarung, Amrus Natalsya, salah satu yang disingkirkan. Lukisan ini dibeli Sukarno untuk dipajang di istana dan telah terhimpun pula dalam buku Koleksi Lukisan dan Patung Presiden RI Soekarno Seri III.


Bung Karno bukan kali itu saja membeli karya Amrus. Pada Lustrum Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) I tahun 1955, Sukarno membeli patung buatan Amrus berjudul Orang Buta yang Dilupakan. Selain itu, karya patungnya Jeritan Tak Terdengar yang dipamerkan dalam rangka menyambut KAA di Bandung juga dikoleksi oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.


“Dua peristiwa penting ini melambungkan nama Amrus. Reputasinya naik dan sosoknya menjadi sangat diperhitungkan, padahal usianya masih 22 tahun saat itu,” tulis Hairus Salim HS dan Hajriansyah dalam Berlayar di Tengah Badai.


Amrus Natalsya dikenal sebagai salah satu pelukis dan pematung terkemuka pada 1960-an. M. Agus Burhan dalam Seni Lukis Indonesia Masa Jepang Sampai Lekra menyebut Amrus termasuk seniman yang berkomitmen pada kredo seni untuk rakyat. Lukisan Kawan-Kawanku menjadi salah satu karya yang mercerminkan ekspresi ketegangan pada kelompok masyarakat bawah.


Bekas pelukis istana, Lim Wasim, menuturkan kepada Agus Dermawan bahwa, “menurut Kepala Rumah Tangga Kepresidenan kala itu, lukisan tersebut adalah gambaran dari rakyat jelata yang marah kepada kapitalis birokrat.”


Alasan-alasan itulah, kata Agus Dermawan, yang membuat lukisan Amrus dikategorikan sebagai “tidak bersih lingkungan”. Selain itu, Orde Baru menganggap lukisan itu dapat memprovokasi ketertindasan proletar yang identik sebagai kaumnya sosialis-komunis.


“Akibatnya, selama hampir tiga dekade ‘Kawan-kawanku’ digudangkan bersama puluhan lukisan ‘kiri’ yang lain,” ungkap Agus.


Sementara itu, Amrus sendiri mengatakan bahwa makna lukisan tersebut sederhana saja. Kawan-Kawanku hanya menggambarkan orang-orang yang sedang istirahat di sore hari dan hendak mandi di kali setelah seharian bekerja.


“Teman-teman saya di ASRI tahu, karena mereka adalah modelnya,” kata Amrus seperti dikutip Agus.


Namun tetap saja Orde Baru yang menentukan. Lukisan tersebut telah puluhan tahun diturunkan dari dinding istana dan baru ditemukan kembali pada 2011 oleh Panitia Uji Petik yang dibentuk Susilo Bambang Yudhoyono. Sayangnya lukisan Kawan-Kawanku telah rusak berat. Selain itu, lukisan lain seperti Memanah karya Henk Ngantung juga mengalami kerusakan setaraf.*

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
It was not without reason that Ahmad Subardjo was nicknamed “The Guarantor of Independence” in Indonesia. However, he was absent when Sukarno proclaimed independence.
bg-gray.jpg
Saat memimpin Jakarta, Sudiro dihadapkan pada kondisi berantakan. Putar otak demi pembangunan kota, termasuk cari dana di luar lungsuran dari pusat. Sering pula gagasannya ditolak pemerintah pusat.
bg-gray.jpg
Ahmad Subardjo was born in Karawang to a family of Acehnese and Javanese nobility. The beloved son of a civil service police officer, he moved to Batavia to continue his education at a Dutch school.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah became the first female minister in Indonesian history. She handled everything from diplomacy and labor issues to makeup and lipstick.
Piala Dunia Wanita bentuk pengakuan FIFA terhadap perjuangan puluhan tahun.
Piala Dunia Wanita bentuk pengakuan FIFA terhadap perjuangan puluhan tahun.
Cerita lama tentang feodalisme, priayi intelek dan misteri raibnya sebuah patung.
Cerita lama tentang feodalisme, priayi intelek dan misteri raibnya sebuah patung.
Drama persaingan sekaligus persahabatan dua pembalap flamboyan legendaris yang memicu adrenalin.
Drama persaingan sekaligus persahabatan dua pembalap flamboyan legendaris yang memicu adrenalin.
Gara-gara wasit telat datang, Italia gagal melakoni laga kualifikasi. Di laga persahabatan malah berakhir kacau. Italia gagal lolos Piala Dunia 1958 di Swedia.
Gara-gara wasit telat datang, Italia gagal melakoni laga kualifikasi. Di laga persahabatan malah berakhir kacau. Italia gagal lolos Piala Dunia 1958 di Swedia.
Idris Sardi tak hanya lihai menggesek biola. Dia juga tukang cerita.
Idris Sardi tak hanya lihai menggesek biola. Dia juga tukang cerita.
Presiden pertama Palau tewas dibunuh saat berupaya mewujudkan kedaulatan penuh negerinya sekaligus mengatasi konflik di luar dan dalam negerinya.
Presiden pertama Palau tewas dibunuh saat berupaya mewujudkan kedaulatan penuh negerinya sekaligus mengatasi konflik di luar dan dalam negerinya.
transparant.png
bottom of page