top of page

Merayakan Kolaborasi Seni dan Budaya di Festival Seni Multatuli

Ajang pertemuan pelaku kebudayaan lokal Lebak dan nasional. Tujuannya menciptakan kebudayaan baru yang bisa diterima publik lebih luas.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Peresmian pembukaan Festival Seni Multatuli 2025 (Randy Wirayudha/Historia.ID)

20 Sep 2025
3 menit membaca

Diperbarui: 18 Mar

FESTIVAL Seni Multatuli hadir lagi di Alun-Alun Timur, tak jauh dari Museum Multatuli, Rangkasbitung, Lebak, Banten. Dengan mengedepankan tema “Orang-Orang Baru dari Banten”, hajatan terbuka untuk umum yang dihelat pada 19-21 September 2025 itu kembali menyuguhkan memori akan Multatuli lewat kolaborasi seni-budaya lokal dan nasional. 

 

Multatuli adalah nama pena dari Eduard Douwes Dekker. Ia pernah bekerja sebagai ambtenaar hingga asisten residen kolonial Hindia Belanda di Sumatra, Purwakarta, dan Lebak pada pertengahan abad ke-19. 

 

Multatuli kondang lewat karyanya, Max Havelaar (1860). Novel satire yang lantas mengguncang kolonialis Belanda itu karena secara gamblang menguak penindasan oleh kolonialis di tanah Hindia. Max Havelaar membangkitkan pemikiran-pemikiran anti-kolonialisme lantaran juga dibaca banyak tokoh dunia. 

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
transparant.png
bottom of page