top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Naga Bonar Lahir Kembali

Legenda pejuang sekaligus bandit hadir kembali. Siapa Naga Bonar sebenarnya?

21 Agu 2019

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Gading Marten memerankan Naga Bonar dalam Naga Bonar Reborn. (Instagram @filmnagabonar).

  • 21 Agu 2019
  • 2 menit membaca

Diperbarui: 31 Mei 2025

TOKOH bandit legendaris dari Medan, Naga Bonar, kembali meramaikan bioskop Indonesia. Film berjudul Naga Bonar Reborn ini tayang di seluruh bioskop mulai 21 November 2019.


Naga Bonar Reborn disutradarai oleh Dedi Setiadi dan tokoh Naga Bonar diperankan oleh Gading Marten. Sedangkan Kirana diperankan oleh Citra Kirana dan tokoh Emak diperankan oleh Rita Matumona.


Dalam peluncuran trailer Naga Bonar Reborn, Gusti Randa, selaku produser mengatakan bahwa tim produksi telah berkonsultasi dengan Mutiara Sani, istri Asrul Sani pencipta karakter Naga Bonar. Gusti juga mengatakan film Naga Bonar kali ini akan berbeda dengan versi-versi sebelumnya.


"Kalau ditanya apa hebatnya, kita adalah versi yang paling lengkap. Jadi bukan part of Naga Bonar tapi dari awal sampai Naga Bonar," kata Gusti.


Sementara itu, Gading Marten, pemeran Naga Bonar mengaku enggan menonton film Naga Bonar yang sebelumnya agar tidak terpengaruh dengan karakter lawas Naga Bonar.


"Saya cuma pernah nonton sepotong-sepotong. Jadi per adegan doang gitu. Takutnya kalau terlalu suka banget nanti jatuhnya kita jiplak dia gitu," jelas Gading.


Kisah Naga Bonar pertama kali dibuat oleh Asrul Sani dan difilmkan dengan judul Naga Bonar pada 1987. Kemudian pada 2007, film kedua Naga Bonar dibuat dengan judul Naga Bonar (Jadi) 2. Dalam kedua film tersebut, tokoh Naga Bonar diperankan Deddy Mizwar.


Lakon Naga Bonar sendiri disebut-sebut terisnpirasi dari tokoh Timur Pane. Timur Pane ialah tokoh laskar yang mengangkat diri sendiri menjadi jenderal. Sebelumnya, Timur Pane dikenal sebagai bandit dan copet di Kota Medan.


Sebelum 1945, Timur Pane ialah seorang pedagang jengkol dan sayuran di Pasar Sambu, Medan sekaligus menjadi copet dan jagoan. Kemudian sesudah 1945, dia bergabung dengan Nasional Pelopor Indonesia (Napindo) yang merupakan organ bersenjata Partai Nasional Indoenesia (PNI) di Sumatra Utara. Timur Pane bersama pasukan Napindo Naga Terbang ikut dalam pertempuran Medan Area.


Pada 1946, Timur Pane keluar dari Napindo lalu membentuk Brigade Marsose. Dia mengangkat diri menjadi jenderal serta meminta 120 juta gulden kepada gubernur.


"Mungkin juga (Timur Pane) sangat ditakuti, karena tindakannya kerapkali radikal, dan musuh yang ditangkapnya terus dipotong saja," ujar wartawan Antara, Mohammad Radjab dalam reportasenya Tjatatan dari Sumatera.


Pada 1947, dia diterima dalam Tentara Nasional Indonesia (TNI) sebagai panglima Legiun Penggempur.


Wakil Presiden Mohammad Hatta, dalam kunjungannya ke Tapanuli dan Sumatra Utara memerintahkannya merebut Kota Medan atas permintaan Timur Pane sendiri.


"Pada hari itu juga kuperintahkan kepadanya (Timur Pane) memasuki daerah Belanda sekitar Medan," kata Hatta dalam otobiografinya Untuk Negeriku Jilid 3: Menuju Gerbang Kemerdekaan.


Namun, ketika tentara Belanda berhasil mendarat di Pantai Cermin dan mengalahkan pasukan TNI, Timur Pane membatalkan rencananya. Dia dan pasukannya mundur ke markas.


Pada 1948, Legiun Penggempur dilikuidasi. Timur Pane tergabung dalam Divisi Banteng Negara Sektor II Komandemen Sumatra, membentuk Sang Gerilya, lalu membuat kekacauan dan mengundurkan diri ke Sektor III pada 1949. Di Sektor III pun Timur Pane lagi-lagi membuat ulah.


Pada tahun yang sama, Timur Pane bergabung dengan Gerakan Rakyat Murba Indonesia yang menentang Sektor III. Sang Gerilya menjadi pasukan tempurnya. Namun, Sang Gerilya kemudian ditumpas oleh Sektor III.


Akhir perjalanan Timur Pane belum diketahui. Kabar kematian atau di mana dia meninggal dunia pun demikian. Sejarah mencatat namanya identik sebagai bandit sekaligus pejuang yang melegenda.*

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

Advertisement

Masa Pahit Kesultanan Langkat

Masa Pahit Kesultanan Langkat

Kesultanan paling kaya di masa Hindia Belanda luluh lantak digilas revolusi sosial. Padahal, sang sultan telah menyatakan sumpah setia pada Republik Indonesia.
Menyibak Mitos Haji Djamhari

Menyibak Mitos Haji Djamhari

Penelitian membuktikan bahwa sosok Haji Djamhari sebagai penemu kretek benar-benar ada dan bukan tokoh fiksi.
Dokter Tolong Orang Jawa Dikira Islam

Dokter Tolong Orang Jawa Dikira Islam

Rumahsakit Bethesda Yogyakarta yang masih berdiri hingga kini merupakan buah "kasih" dr. Belanda bernama JG Scheurer.
Supriyadi Masuk Hutan dan Menghilang

Supriyadi Masuk Hutan dan Menghilang

Setelah memimpin pemberontakan PETA di Blitar, Supriyadi masuk hutan dan menghilang. Diduga telah dibunuh Jepang, tetapi dirahasiakan sehingga makamnya tidak ditemukan.
Donny God Bless Kritik Penguasa Generasi Ayahnya

Donny God Bless Kritik Penguasa Generasi Ayahnya

Basis God Bless Donny Fattah pandai menulis lagu dan peduli pada kehidupan bangsanya. Lagunya cukup kritis di era Orde Baru.
bottom of page