top of page

Timur Pane Si Jenderal Bohongan

Di masa revolusi, orang dapat mendaulat diri sesuka hati. Pangkat setara jenderal bisa melekat di pundak dalam sekejap.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 15 Jun 2021
  • 3 menit membaca

Sekali waktu, anak buah Naga Bonar berembuk. Mereka membincangkan strategi untuk menghadapi Belanda. Besok hari, mereka akan merundingkan pembatasan garis demarkasi.


“Untuk berunding dengan tentara Belanda, masing-masing kita harus punya pangkat, supaya mereka segan,” kata Lukman si juru bicara markas.


Tidak tanggung-tanggung, pimpinan mereka Naga Bonar diberikan pangkat tertinggi: Marsekal Medan. Alasannya, Marsekal Medan (field marshal) itulah pangkat yang disandang para panglima besar dalam Perang Dunia II. Tapi, dalam kenaifannya Naga Bonar menolak dan salah pengertian. Dia minta pangkatnya ditambahkan menjadi Marsekal Medan-Lubuk Pakam. Lukman yang sekolahnya paling tinggi itu mengatakan pangkat demikian tidak ada. Naga Bonar jadi emosi.  


“Kalau tak ada, dibikin!” hardik Naga Bonar dengan logat Medannya yang kental.


Akhirnya disepakati, Naga Bonar menjadi jenderal. Murad jadi kolonel, Pardjo jadi letnan kolonel, dan Lukman jadi mayor. Sementara itu, Bujang, asistennya Naga Bonar diberi pangkat kopral. Begitulah rapat kepangkatan itu diputuskan secara kilat seperti tersua dalam film Naga Bonar (1987) besutan sineas Asrul Sani.


Fragmen di atas memang rekaan Asrul Sani semata. Begitu pula dengan sosok Naga Bonar. Hanya saja perkara menaikan pangkat diri sendiri dalam sekejap memang jamak terjadi di masa revolusi. Kisah paling beken barangkali menyangkut sosok Timur Pane, tokoh laskar legendaris dari Medan. Dari kiprah Timur Pane inilah Asrul Sani disebut-sebut terinpirasi menciptakan karakter Naga Bonar.  


Timur Pane, menurut catatan wartawan Antara Muhammad Radjab adalah seorang pedagang jengkol dan sayur-sayuran yang sekaligus berprofesi sebagai pencopet di kota Medan. Badannya pendek kecil, mukanya separuh bagian bawah kebiru-biruan, sorot matanya liar. Orang-orang mengenalnya memiliki nyali besar. Sewaktu terjadi Pertempuran Medan Area, Timur Pane menghimpun pasukannya dalam “Laskar Naga Terbang” yang terdiri dari para kriminal. Di kawasan Sumatra Timur, Timur Pane seorang figur yang terkenal dan menggelisahkan.


“Katanya, ia sendiri sudah banyak menyembelih orang di medan pertempuran. Kenekatan inilah yang menjadikannya terkemuka, ditakuti, dan namanya terkenal,” tutur Radjab dalam Tjatatan di Sumatra.


Uniknya, Timur Pane selalu melekatkan pangkat jenderal mayor pada namanya. Entah darimana si mantan copet ini memperoleh pangkat yang sekarang setara perwira tinggi bintang dua itu. Demi mengesankan citra diri sebagai perwira tinggi, Timur Pane punya lagak khas. Sebagaimana dituturkan Maraden Panggabean dalam otobiografinya Berjuang dan Mengabdi, Timur Pane gemar sekali memasang bendera kuning ala Jepang pada kendaraannya. Di masa pendudukan Jepang, bendera kuning yang melekat pada kendaraan menandakan bahwa penumpang di dalamnya adalah seorang perwira tinggi, setingkat jenderal.  


Menurut Kementerian Penerangan dalam Republik Indonesia: Provinsi Sumatra Utara, kekuatan pasukan Timur Pane makin diperhitungkan setelah dia berhasil meleburkan beberapa barisan laskar ke dalam “Tentara Marsose”. Disitulah Timur Pane mendaulat dirinya sebagai jenderal mayor. Secara sepihak, Timur Pane menyatakan dirinya telah menjadi Tentara Republik Indonesia. Seluruh pasukannya, mulai dari komandan sampai kepada anak buah diberikan tanda pangkat militer.


Untuk mendapatkan pengakuan resmi dari pemerintah pusat, Timur Pane banyak bikin ulah. Pada pertengahan 1947, Timur Pane serta pasukan pengawalnya mendatangi S.M. Amin selaku gubernur muda Sumatra Utara. Tanpa basa-basi, Timur Pane mendesak Amin agar pasukan Marsose diterima sebagai tentara republik. Namun yang lebih mencengangkan, Timur Pane meminta anggaran belanja untuk pasukannya sebesar 120 juta gulden setiap bulannya.


Selain itu, aksi Timur Pane melalui Tentara Marsosenya menyebabkan friksi dengan TRI Divisi X Sumatra yang dipimpin oleh Kolonel Husein Jusuf dan kepala stafnya Letkol Hopman Sitompul. Seperti disebutkan Jenderal Abdul Haris Nasution dalam Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia Jilid 6: Perang Gerilya Semesta I, pasukan Timur Pane kerap melucuti TRI dan polisi negara yang ada di wilayahnya.  Kendati demikian, pimpinan TRI Divisi X Sumatra maupun Komandemen Sumatra tidak dapat berbuat apa-apa.


Timur Pane sendiri, kata Nasution awalnya diberi pangkat kolonel. Karena pengaruhnya begitu besar di kalangan kelompoknya, pimpinan Markas Besar Tentara (MBT) di Yogyakarta terpaksa merestui pangkat jenderal mayor kepada Timur Pane secara sementara. Itu diusulkan Residen Sumatra Timur Mr. Abu Bakar Jaar. Maka resmilah Tentara Marsose  diakui Komandemen Tentara Sumatra sebagai kesatuan perang dengan nama Legiun Penggempur.


Kendati demikian, kejenderalan Timur Pane itu hanya omong kosong. Ketika Belanda melancarkan agresi militer yang pertama pada akhir Juli 1947, pasukan Timur Pane kocar-kacir. Padahal dia telah sesumbar kepada Wakil Presiden Mohammad Hatta akan merebut kembali kota Medan dari tangan Belanda. Pasukan Legiun Penggempur akhirnya dibubarkan setelah Hatta menetapkan kebijakan Reorganisasi dan Rasionalisasi Angkatan Perang. Dengan sendirinya, Timur Pane dicopot dari kedudukan militernya. Gelar jenderal mayor kebanggaannya pun tanggal begitu saja.   


Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Penampilan Frans Meeng di Piala Dunia 1938 dipuji media Belanda. Perang membuat dia dan kakaknya yang bermain di klub yang sama harus menderita di Samudera Hindia dengan akhir berbeda.
bg-gray.jpg
Sederet jabatan diemban Sudiro sejak Indonesia merdeka. Di Dewan Konstituante, Sudiro sudah menyuarakan isu HAM.
bg-gray.jpg
Sejak awal menjadi pejabat, Sudiro ditempatkan di daerah konflik. Dimulai dari Surakarta, berakhir di Sulawesi yang penuh pergolakan.
bg-gray.jpg
Sudiro meninggalkan hidup enak di Palembang karena dipanggil Sukarno ke Jakarta. Dia memimpin Barisan Pelopor dan berperan dalam Proklamasi kemerdekaan.
Gajah putih simbol kerajaan di Thailand. Hewan suci dan langka ini dipercaya pembawa keberuntungan, sehingga tidak boleh dikonsumsi dan dipekerjakan. Gajah putih dapat menghancurkan lawan.
Gajah putih simbol kerajaan di Thailand. Hewan suci dan langka ini dipercaya pembawa keberuntungan, sehingga tidak boleh dikonsumsi dan dipekerjakan. Gajah putih dapat menghancurkan lawan.
Kala sidak ke Tanjung Priok, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengingatkan untuk mencintai rupiah. Dahulu di pengujung Orde Baru gerakan cinta rupiah didengungkan Tutut Soeharto.
Kala sidak ke Tanjung Priok, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengingatkan untuk mencintai rupiah. Dahulu di pengujung Orde Baru gerakan cinta rupiah didengungkan Tutut Soeharto.
Kisah kapten yang marah kepada komandannya. Satu telinga komandannya dipotongnya.
Kisah kapten yang marah kepada komandannya. Satu telinga komandannya dipotongnya.
Meredupnya prestise majalah sastra dan bertumbuhnya komunitas sastra daerah. Di era digital, setiap orang bisa menerbitkan karyanya sendiri.
Meredupnya prestise majalah sastra dan bertumbuhnya komunitas sastra daerah. Di era digital, setiap orang bisa menerbitkan karyanya sendiri.
Magnetron merupakan komponen penting dalam teknologi radar untuk perang. Seorang insinyur mengembangkannya untuk mesin pemanas makanan.
Magnetron merupakan komponen penting dalam teknologi radar untuk perang. Seorang insinyur mengembangkannya untuk mesin pemanas makanan.
Terpilih secara aklamasi menjadi Presiden RI, bagaimana perjalanan hidup Sukarno?
Terpilih secara aklamasi menjadi Presiden RI, bagaimana perjalanan hidup Sukarno?
transparant.png
bottom of page