- 1 hari yang lalu
- 2 menit membaca
SUASANA tegang dan panik melanda para pimpinan Republik di Yogyakarta begitu mendengar sejumlah pejabat kabinet menghilang. Salah satunya adalah Perdana Menteri Sutan Sjahrir yang tak diketahui keberadaannya sejak 27 Juni 1946. Tokoh-tokoh sipil dan militer simpatisan kelompok oposisi Persatuan Perjuangan dicurigai sebagai pelakunya.
“Perdana Menteri Sutan Sjahrir diserobot oleh suatu gerombolan dari tempat penginapannya di Solo. Beserta Perdana Menteri dibawa juga Menteri Kemakmuran Darmawan Mangoenkoesoemo, Mayor Jenderal Soedibjo, Mr. Soemitro, Dr. Soemitro Djojohadikoesoemo,” lansir harian Merdeka, 1 Juli 1946.
Pada 30 Juni 1946, Menteri Pertahanan Amir Sjarifoeddin mengumpulkan sejumlah orang kepercayaannya untuk berembuk. Mereka antara lain Jenderal Mayor dr. Moestopo, Wakil Menteri Sosial Mr. Abdul Madjid Djojodiningrat, dan tokoh pemuda simpatisan Sjahrir seperti Aboe Bakar Lubis dan Imam Slamet. Pokok pembicaraan berkisar soal penculikan Sutan Sjahrir dan apa yang harus dilakukan.
“Dr. Moestopo, yang terkenal sebagai orang yang eksentrik, pada malam itu bersenjata lengkap, sebilah keris di pinggang kiri, pistol di pinggang kanan, granat tangan di saku dada,” kenang Aboe Bakar Lubis dalam Kilas Balik Revolusi: Kenangan, Pelaku, dan Saksi.
Moestopo merupakan dokter gigi yang menjadi komandan militer jebolan PETA di masa pendudukan Jepang. Dalam Pertempuran Surabaya pada November 1945, Moestopo memimpin sebatalion pasukan dan mengangkat dirinya sebagai Menteri Pertahanan ad interim. Memasuki 1946, Moestopo ditarik ke Yogyakarta untuk menjadi penasihat militer Presiden Sukarno.
Saat rembukan dengan Amir pasca penculikan Sjahrir, Aboe Bakar Lubis mengenang, Moestopo mendemonstrasikan apa saja yang dapat dilakukan dengan senjata-senjata yang melekat padanya.
“Kalau musuh dekat, akan saya tikam dengan keris,” kata Moestopo diikuti gerakan menghunus kerisnya dan membuat gerakan menikam. Sejurus kemudian, dia beraksi lagi.
“Kalau musuh masih agak jauh akan saya tembak,” imbuhnya lagi seraya mencabut pistol dari saku pinggang sebelah kanan. Senjata api itu kemudian diacung-acungkannya mirip koboi film-film aksi. Tapi, Moestopo belum berhenti berdemonstrasi. Dia kemudian keluarkan senjata pamungkas.
“Kalau musuhnya banyak dan bergerombol, maka granat akan saya lemparkan,” dan keluarlah granat dari sakunya, lalu melakukan gerakan seperti hendak melempar.
Lubis dan lainnya bergidik ngeri menyaksikan tingkah nyentrik Moestopo itu. Mereka takut andai kata terjadi kecelakaan atau Moestopo salah cabut pelatuk pistol maupun pemantik granat. “Kalau granat itu meledak dalam kamar itu, habislah kami semuanya,” kata Lubis.
Dengan menenteng aneka senjata di tubuhnya, gelagat Moestopo terpantau oleh para penjaga keamanan istana kepresidenan. Apalagi Moestopo terlihat sibuk sekali. Dia mondar-mandir ke sana kemari seolah-olah tugas patroli.
Menurut Mangil Martowidjojo, komandan pengawal Presiden Sukarno dari Detasemen Kawal Pribadi (DKP), gerak-gerik Moestopo yang mencurigakan menyebabkan dirinya harus dilucuti. Saat itu, situasi amat genting. Desas-desus bahkan menyebutkan Presiden Sukarno juga hendak diculik. Oleh karena itu, pengamanan istana diperketat. Mereka yang hendak memasuki istana atau bertemu presiden dan wakil presiden, tak diperkenankan membawa senjata apapun.
Ketika Moestopo digeledah, dengan santainya dia masih berujar kepada petugas, “Kamu kurang teliti, coba geledah saya sekali lagi,” setelah keris dan pistol diamankan. Benar saja, setelah digeledah lagi, masih terdapat granat tangan tersembunyi di tubuhnya.
“Dengan tersenyum Moestopo menyerahkan semua senjatanya kepada anak buah kami yang menggeledah. Dan langsung, beliau ikut aktif bertugas di Istana,” tutur Mangil dalam Kesaksian tentang Bung Karno 1945—1947.
Saat-saat krisis itu terlewati setelah Sutan Sjahrir akhirnya dibebaskan. Begitupun Presiden Sukarno yang aman dari ancaman penculikan. Sejumlah orang kemudian ditangkap termasuk tokoh utama Jenderal Mayor Soedarsono, panglima Divisi III. Namun, yang juga tidak kalah pentingnya, senjata mematikan milik Moestopo tidak perlu digunakan karena bakal memakan lebih banyak korban.*















