- 5 hari yang lalu
- 2 menit membaca
SUASANA tegang dan panik melanda para pimpinan Republik di Yogyakarta begitu mendengar sejumlah pejabat kabinet menghilang. Salah satunya adalah Perdana Menteri Sutan Sjahrir yang tak diketahui keberadaannya sejak 27 Juni 1946. Tokoh-tokoh sipil dan militer simpatisan kelompok oposisi Persatuan Perjuangan dicurigai sebagai pelakunya.
“Perdana Menteri Sutan Sjahrir diserobot oleh suatu gerombolan dari tempat penginapannya di Solo. Beserta Perdana Menteri dibawa juga Menteri Kemakmuran Darmawan Mangoenkoesoemo, Mayor Jenderal Soedibjo, Mr. Soemitro, Dr. Soemitro Djojohadikoesoemo,” lansir harian Merdeka, 1 Juli 1946.
Pada 30 Juni 1946, Menteri Pertahanan Amir Sjarifoeddin mengumpulkan sejumlah orang kepercayaannya untuk berembuk. Mereka antara lain Jenderal Mayor dr. Moestopo, Wakil Menteri Sosial Mr. Abdul Madjid Djojodiningrat, dan tokoh pemuda simpatisan Sjahrir seperti Aboe Bakar Lubis dan Imam Slamet. Pokok pembicaraan berkisar soal penculikan Sutan Sjahrir dan apa yang harus dilakukan.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















