top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Para Pemuda yang Diciduk Usai Rapat Raksasa di Lapangan Ikada

Dianggap otak di balik rapat raksasa di Lapangan Ikada, beberapa pemuda Menteng 31 ditangkap militer Jepang.

Oleh :
23 Sep 2020

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Rapat raksasa di Lapangan Ikada, Jakarta, pada 19 September 1945. (IPPHOS).

  • 23 Sep 2020
  • 3 menit membaca

Rapat raksasa di Lapangan Ikada (sekarang kompleks Monumen Nasional), Jakarta pada 19 September 1945 berlangsung suskes. Tanpa menghiraukan ancaman militer Jepang yang masih berkuasa, sekitar 200.000 orang (versi Bung Karno: satu juta orang) datang dari berbagai pelosok Jakarta, Bogor, Bekasi, Karawang, Tangerang, Purwakarta, Sukabumi, dan Cianjur. Mereka memamerkan dukungan maksimal kepada pemerintahan Republik Indonesia pimpinan Sukarno-Hatta yang baru sebulan berdiri.


“Rapat Ikada memperlihatkan kekuatan retorika Sukarno terhadap rakyat,” ungkap Robert B. Cribb dalam Gejolak Revolusi di Jakarta 1945-1949: Pergulatan Antara Otonomi dan Hegemoni.


Namun kesuksesan kaum Republik di Ikada menjadi aib bagi militer Jepang yang dituntut pihak Sekutu untuk tetap memelihara status quo. Karena itu mereka mencari biang kerok di balik aksi unjuk rasa tersebut.


Kamis pagi, 20 September 1945, situasi Jakarta diliputi ketegangan. Di satu pihak, militer Jepang mengkhawatirkan akan munculnya aksi-aksi susulan dari para pemuda Republik. Di pihak lain, para pemuda pun merasa cemas militer Jepang akan melakukan aksi balas dendam karena perintahnya sama sekali tak dituruti.


Tidak ingin kecolongan lagi, begitu matahari terbit dari ufuk timur, secara serentak tentara Jepang melangsungkan razia di tempat-tempat yang dicurigai sebagai basis kelompok pemuda sekaligus melarang orang-orang Indonesia mengibarkan bendera Merah Putih.


Malamnya, sekelompok Kenpeitai (Polisi Militer Jepang) lantas mengepung Asrama Angkatan Baru Indonesia yang terletak di Jalan Menteng Raya No. 31. Mereka menciduk para pemimpin pemuda Menteng 31 antara lain A.M. Hanafi, D.N. Aidit, Sidik Kertapati, Manaf Roni, M.H. Lukman, dan Wahidin Nasution.


 “(Kami) diangkut ke Penjara Cipinang. Tapi karena ketahuan saya punya hubungan dengan sipirnya (bernama) Jusuf asal Bengkulu, kami diangkut lagi dan dijebloskan ke Penjara Bukit Duri,” kenang A.M. Hanafi dalam Menteng 31: Membangun Jembatan Dua Angkatan.


Pada hari ke-2 di Penjara Bukit Duri, saat mengikuti acara sarapan pagi, tetiba para tokoh pemuda itu terkejut melihat rekan mereka Adam Malik dan Darwis pun ada di sana. Adam Malik berkisah bagaimana situasi di luar dan kebutuhan rakyat akan tenaga mereka. Maka sambil berbisik-bisik, mereka kemudian merencanakan untuk melarikan diri dari penjara tersebut hari itu juga.


“Sekarang kita angkat Bung Hanafi jadi 'diktator' kita semua, kita mesti secepatnya keluar dari sini, kan kita sudah merdeka,” ujar Adam Malik.


“Mengapa saya harus jadi seorang diktator?” tanya Hanafi.


“Supaya kita semua bisa disiplin, laksanakan perintahnya tanpa mendebat,” ungkap Adam Malik.


Maka dibuatlah rencana pelarian lebih rinci: selagi melobi kepala sipir penjara, Tengku Thajeb, Adam Malik dan Wahidin Nasution harus menerobos langsung ke pintu penjara, sementara Darwis dan Hanafi bergerak paling akhir dan memberi perlindungan kepada rombongan pertama.


Saat para petugas mengatur makanan dan para penjaga yang terdiri dari sekelompok tentara Jepang pergi menaiki sebuah truk, para pemuda itu melihat pintu penjara yang tiga lapis terbuka begitu saja. Tanpa menunggu komando lagi, Adam Malik langsung meloncat keluar penjara diikuti yang lainnya.


Sidik dan Hanafi yang bergerak belakangan sempat dihalangi oleh dua sipir berkebangsaan Indo-Belanda. Namun demi melihat sepucuk pistol (yang secara diam-diam diberikan oleh Tengku Thajeb) di genggaman tangan kanan Hanafi, tak pelak mereka pun menjadi ragu. Saat situasi demikian, tetiba terdengar bentakan keras dari Tengku Thajeb:


Laten ze maar er van doorgaan als jullie niet ge dood willen worden!” (Biarkan mereka lepas, kalau kalian tidak mau mati!).”


Sontak, para pengawal itu terbengong-bengong kebingungan. Mereka lantas melepaskan tangan Sidik Kertapati yang sudah mereka pegang. Begitu melihat Sidik terlepas, Hanafi menghambur sambil mendorong Sidik keluar.


Sesampai di luar, kelompok para pelarian itu pun mengambil jalan masing-masing. Hanafi ingat, dia bersama Sidik sempat bersembunyi di keramaian Pasar Jatinegara sebelum mereka menggabungkan diri kembali dengan organisasi perlawanan.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

Advertisement

Masa Pahit Kesultanan Langkat

Masa Pahit Kesultanan Langkat

Kesultanan paling kaya di masa Hindia Belanda luluh lantak digilas revolusi sosial. Padahal, sang sultan telah menyatakan sumpah setia pada Republik Indonesia.
Menyibak Mitos Haji Djamhari

Menyibak Mitos Haji Djamhari

Penelitian membuktikan bahwa sosok Haji Djamhari sebagai penemu kretek benar-benar ada dan bukan tokoh fiksi.
Dokter Tolong Orang Jawa Dikira Islam

Dokter Tolong Orang Jawa Dikira Islam

Rumahsakit Bethesda Yogyakarta yang masih berdiri hingga kini merupakan buah "kasih" dr. Belanda bernama JG Scheurer.
Supriyadi Masuk Hutan dan Menghilang

Supriyadi Masuk Hutan dan Menghilang

Setelah memimpin pemberontakan PETA di Blitar, Supriyadi masuk hutan dan menghilang. Diduga telah dibunuh Jepang, tetapi dirahasiakan sehingga makamnya tidak ditemukan.
Donny God Bless Kritik Penguasa Generasi Ayahnya

Donny God Bless Kritik Penguasa Generasi Ayahnya

Basis God Bless Donny Fattah pandai menulis lagu dan peduli pada kehidupan bangsanya. Lagunya cukup kritis di era Orde Baru.
bottom of page