top of page

Para Pemuda yang Diciduk Usai Rapat Raksasa Lapangan Ikada

Dianggap otak di balik rapat raksasa di Lapangan Ikada, beberapa pemuda Menteng 31 ditangkap militer Jepang.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Rapat Raksasa di Lapangan Ikada, Jakarta, 19 September 1945. (IPPHOS).

23 Sep 2020
3 menit membaca

Diperbarui: 19 Sep

RAPAT Raksasa di Lapangan Ikada (sekarang kompleks Monumen Nasional), Jakarta pada 19 September 1945 berlangsung suskes. Tanpa menghiraukan ancaman militer Jepang yang masih berkuasa, sekitar 200.000 orang (versi Bung Karno: satu juta orang) datang dari berbagai pelosok Jakarta, Bogor, Bekasi, Karawang, Tangerang, Purwakarta, Sukabumi, dan Cianjur. Mereka memamerkan dukungan maksimal kepada pemerintahan Republik Indonesia pimpinan Sukarno-Hatta yang baru sebulan berdiri.


“Rapat Ikada memperlihatkan kekuatan retorika Sukarno terhadap rakyat,” ungkap Robert B. Cribb dalam Gejolak Revolusi di Jakarta 1945-1949: Pergulatan Antara Otonomi dan Hegemoni.


Namun kesuksesan kaum Republik di Ikada menjadi aib bagi militer Jepang yang dituntut pihak Sekutu untuk tetap memelihara status quo. Karena itu mereka mencari biang kerok di balik aksi unjuk rasa tersebut.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
It was not without reason that Ahmad Subardjo was nicknamed “The Guarantor of Independence” in Indonesia. However, he was absent when Sukarno proclaimed independence.
bg-gray.jpg
Saat memimpin Jakarta, Sudiro dihadapkan pada kondisi berantakan. Putar otak demi pembangunan kota, termasuk cari dana di luar lungsuran dari pusat. Sering pula gagasannya ditolak pemerintah pusat.
bg-gray.jpg
Ahmad Subardjo was born in Karawang to a family of Acehnese and Javanese nobility. The beloved son of a civil service police officer, he moved to Batavia to continue his education at a Dutch school.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah became the first female minister in Indonesian history. She handled everything from diplomacy and labor issues to makeup and lipstick.
Piala Dunia Wanita bentuk pengakuan FIFA terhadap perjuangan puluhan tahun.
Piala Dunia Wanita bentuk pengakuan FIFA terhadap perjuangan puluhan tahun.
Beragam cara diambil untuk mengakali atmosfer stadion tanpa “pemain keduabelas”. Dari mural kontroversial hingga boneka seks.
Beragam cara diambil untuk mengakali atmosfer stadion tanpa “pemain keduabelas”. Dari mural kontroversial hingga boneka seks.
 Sejak dini, Sandiaga terobsesi beragam olahraga. Menurun dari orangtuanya
Sejak dini, Sandiaga terobsesi beragam olahraga. Menurun dari orangtuanya
Tuan rumah terhindar dari malu di Indonesia Open 2019 berkat kegemilangan ganda putra. Sektor yang dulunya dipandang sebelah mata.
Tuan rumah terhindar dari malu di Indonesia Open 2019 berkat kegemilangan ganda putra. Sektor yang dulunya dipandang sebelah mata.
Tragedi Kanjuruhan jadi salah satu petaka terparah dalam catatan sejarah.
Tragedi Kanjuruhan jadi salah satu petaka terparah dalam catatan sejarah.
Meski namanya masih asing di telinga, kerja keras bangsa Viking ini membuahkan prestasi dalam sepakbola.
Meski namanya masih asing di telinga, kerja keras bangsa Viking ini membuahkan prestasi dalam sepakbola.
transparant.png
bottom of page