- Randy Wirayudha
- 2 jam yang lalu
- 7 menit membaca
ADA banyak nama besar yang “terseret” dalam jutaan lembar “Epstein Files” yang –diambil dari nama Jeffrey Edward Epstein– dirilis Kementerian Kehakiman Amerika Serikat (AS) pada 30 Januari 2026 lalu. Selain nama Presiden AS Donald Trump dan mantan Presiden Bill Clinton, ada pula nama Elon Musk, Bill Gates, Pangeran Andrew, (Inggris), eks-Perdana Menteri Israel Ehud Barak, hingga bankir Ariane de Rothschild.
Epstein si predator seks mulanya seorang konsultan keuangan. Ia kemudian jadi investor dengan jejaring di mana-mana, mulai dari kalangan bos investasi hingga kontraktor pertahanan. Pada 2008, Epstein dipidana atas kasus prostitusi anak di bawah umur. Pun pada Juli 2019, ia didakwa kasus pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur, rudapaksa berantai, hingga perdagangan seks.
Sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya jatuh juga. Epstein yang beberapa kali lolos dari lubang jarum, akhirnya tumbang. Pasalnya dalam beberapa kasus keuangan ia juga berulang kali bermasalah.
Pasca-dibebaskan dari tahanan akibat kasus seksual 2008, ia kembali berulah. Apapun dilakukannya seenak perutnya, seolah tak bisa tersentuh hukum lagi. Terlepas dari ajalnya, menarik bagaimana seorang yang bahkan dropped-out (DO) kuliah bisa masuk dan punya jejaring circle taipan.
Satu dari sedikit jurnalis investigatif yang pernah menggali lebih dalam tentang bagaimana Epstein membangun jejaring bisnisnya adalah Vicky Ward. Ketika itu Ward masih berkarier di majalah bulanan Vanity Fair. Selama dua bulan Ward mengikuti Epstein. Tidak hanya mewawancarai Epstein namun juga banyak orang di sekelilingnya sampai para korban dan keluarga korban rudapaksa anak di bawah umur.
Artikel khususnya terbit di Vanity Fair edisi Maret 2002 bertajuk “The Talented Mr. Epstein”. Nahasnya, Graydon Carter sang editor menyensor dengan membuang bagian-bagian tentang pengakuan para korban Epstein.
“Saat artikelnya sedang dipersiapkan untuk dimuat, Epstein mengunjungi kantor editor Vanity Fair saat itu, Graydon Carter, dan tiba-tiba, pengakuan dan tuduhan para perempuan itu dihilangkan dari artikelnya. Saat itu Carter bilang, ‘Ia sensitif terkait para gadis muda.’ Carter sebelumnya membantah tudingan ini,” tulis Ward di kolom The Daily Beast, 9 Juli 2019, “Jeffrey Epstein’s Sick Story Played Out for Years in Plain Sight”.
Dari Guru Jadi Investor
Epstein hidup bak maharaja di era modern, begitu kata Leah Kleman kepada Ward di artikelnya di Vanity Fair. Kleman salah satu penyalur seni yang dekat dengan Epstein. Maka ketika Ward diizinkan bertamu ke kediaman mewah Epstein di kawasan elit Upper East Side, Manhattan untuk wawancarainya, banyak benda seni terpajang di rumahnya yang dilihat Ward.
“Aula masuknya dengan lantai-lantai marker berhias banyak lukisan hingga patung-patung pygmy hingga petarung Afrika telanjang. Penghuninya adalah investor Jeffrey Epstein, 50, seorang yang tampan, mirip Ralph Lauren. Baginya properti dengan luas total 51 ribu kaki persegi (4.738 meter persegi) sangatlah layak untuk seseorang seperti dirinya,” tulis Ward.
Saat itu, Epstein punya properti lain, yakni Pulau Little Saint James di Kepulauan Virgin, Amerika Serikat. Properti yang kondang disebut Epstein Island itu dimilikinya sejak 1998. Bedanya dengan George Soros dan Stanley Druckenmiller, Epstein terkesan tertutup dan misterius karena hampir semua kliennya tak diketahui publik. Ia diketahui sekadar ikut mengelola dana para kliennya mencapai total 15 miliar dolar.
“Ia berteman dengan para ilmuwan pemenang Hadiah Nobel, para CEO seperti Leslie Wexner, sosialita Ghislaine Maxwell, bahkan Donald Trump. Dunia mulai penasaran terhadap dia setelah menerbangkan Bill Clinton, (dua aktor) Kevin Spacey dan Chris Tucker ke Afrika dengan pesawat pribadi Boeing 727,” tulis jurnalis Landon Thomas Jr. di kolom New York Magazine edisi 28 Oktober 2002, “Jeffrey Epstein: International Moneyman of Mystery”.
Padahal, Epstein bukanlah berasal dari keluarga old money. Ia lahir pada 20 Januari 1953 di Brooklyn sebagai anak sulung dari dua bersaudara pasangan Yahudi, Pauline Stolofsky dan Seymour George Epstein. Keluarganya kelas menengah-bawah karena ayahnya sekadar bekerja sebagai tukang kebun di Dinas Pertamanan dan Rekreasi Kota New York.
Punya hobi bermain piano, Epstein hanyalah tamatan SMA. Otaknya encer jika menyoal matematika, meski DO dari jurusan fisiologi matematika di New York University. Namun meski tak punya ijazah S-1, pada 1973 ia mendapat pekerjaan mengajar kalkulus dan fisika di sekolah swasta elit, Dalton School.
“Salah satu ayah dari murid Epstein terkesan dengan kelas-kelas matematika Epstein. Sang ayah mengatakan pada Epstein: ‘Kenapa Anda mengajar di Dalton? Mestinya Anda di (pusat ekonomi elit) Wall Street. Bagaimana kalau Anda kontak teman saya, Ace Greenberg’,” lanjut Thomas Jr.
Alan ‘Ace’ Greenberg –bersama Jimmy Cayne– adalah bos perusahaan investasi dan sekuritas perdagangan Bear Stearns. Maka mulai 1976 Epstein muda banting setir jadi asisten yunior di lantai bursa saham. Kariernya mulai melejit berkat background matematikanya hingga jadi mitra di Bear Stearns sejak 1980. Namun, setahun berselang ia memilih angkat kaki.
“Sampai pada 1982 Epstein mendirikan perusahaannya sendiri, J Epstein and Co. (beberapa sumber menyebut Intercontinental Assets Group Inc./IAG, red.), di mana ia mulai mengumpulkan banyak klien. Premis di baliknya simpel: Epstein akan mengelola keuangan klien individu atau keluarga senilai 1 miliar dolar atau lebih. Firmanya tidak sekadar menawarkan saran investasi namun juga mengarsiteki setiap aspek kekayaan kliennya, mulai dari investasi, amal, hingga perencanaan pajak. Seorang kolega mengingat kata-katanya, ‘Saya ingin orang-orang paham kekuasaan, tanggung jawab, dan beban dari uang mereka,’” tambahnya.
Epstein lantas merambah ke bidang koleksion utang. Seorang kenalan kontraktor militer Inggris, Douglas Leese, dan mantan jaksa agung John Mitchell pada 1987 mengenalkan Epstein kepada bos agensi investasi dan penagih utang Towers Financial Corporation, Steven Hoffenberg, di London. Epstein pun berguru kepada Hoffenberg perihal skema pembelian surat utang dari orang-orang yang berutang kepada rumah sakit, bank, dan perusahaan telekomunikasi.
“Catatan keuangan juga menunjukkan pada 1988 Epstein berinvestasi 1,6 juta dolar ke perusahaan supplier olahraga Riddell Sports Inc. Di antara mitra investornya adalah bos industri teater Robert Nederlander dan jaksa Leonard Toboroff. Seorang sumber yang mengetahui transaksi itu menyebut bahwa Epstein bilang pada Nederlander dan Toboroff bahwa ia menambah investasinya dari seorang bankir Swiss yang tak boleh disebutkan namanya. Akan tetapi Hoffenberg mengklaim uangnya dari dia dan pihak Tower menyatakan tahun itu terdapat pinjaman sebesar 400 ribu dolar atas nama Epstein,” sambung Ward.
Hanya saja, Hoffenberg kemudian tersandung kasus investasi bodong (Skema Ponzi) setelah dituntut atau Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC) pada 1993. Namun Epstein lolos setelah angkat kaki lebih dulu dari investigasi penyelewengan investasi itu ketika akhirnya Hoffenberg divonis 20 tahun penjara, denda 1 juta dolar dan restitusi 463 juta dolar.

Setelahnya Epstein kembali menyibukkan diri dengan firmanya sendiri. Satu dari sekian klien yang hanya diketahui publik adalah taipan pemilik perusahaan ritel terbesar pada 1980-an, Leslie Wexner. Menurut Ward, Epstein mengenal Wexner melalui rekannya yang seorang eksekutif perusahaan asuransi, Robert Meister dan istrinya. Beberapa perusahaan yang dinaungi Wexner di antaranya perusahaan fesyen Victoria’s Secret dan perusahaan ritel Bath & Body Works. Pada 1995 Epstein bahkan dipercaya jadi direktur Wexner Foundation dan Wexner Heritage Foundation.
“Sebelumnya Wexner melakukan beberapa investasi yang buruk dan Jeffrey datang dan langsung menyelesaikan semuanya,” sebut salah satu mitra Epstein kepada Ward.
Di masa itu pula circle pergaulannya dengan para taipan meluas, termasuk berkawan dekat dengan Donald Trump dan Tom Barrack. Michael Wolff dalam Fire and Fury: Inside the Trump White House menyebut, ketiganya bak “Tiga Musketeer Kehidupan Malam”.
“Saya mengenal Jeff selama 15 tahun. Orang yang hebat. Senang berada di dekatnya. Bahkan dikatakan ia sangat menyukai wanita-wanita cantik seperti saya juga dan banyak dari mereka masih muda. Tak diragukan lagi, Jeffrey menikmati kehidupan sosialnya,” kata Trump medio 2002, dikutip Thomas Jr.
Pada tahun 2000, nama Epstein yang sudah mulai dikenal, ditunjuk jadi salah satu anggota dewan wali amanat Universitas Rockefeller. Di antara figur-figur kondang yang ada di dewan itu seperti Nancy Kissinger, Brooke Astor, Robert Bass, dan pemenang Hadiah Nobel, Joseph Goldstein.
Tetapi “petualangan” Epstein itu akhirnya menemui batu sandungan. Setelah penyelidikan hingga penyidikan Kepolisian Palm Beach dan kemudian diteruskan FBI atau badan investigasi federal AS, pada 2007 Epstein dinyatakan sebagai tersangka atas kasus prostitusi gadis di bawah umur. Akan tetapi atas negosiasi pengacara Epstein, Alan Dershowitz, kepada Jaksa Distrik Selatan Negara Bagian Florida, Alexander Acosta.
Tak ayal, kasusnya tak naik ke ranah federal setelah hasil negosiasinya menyatakan Epstein akan mengaku bersalah di ranah hukum Negara Bagian Florida. Campur tangan Acosta membuat investigasi lanjutan FBI terhadap kemungkinan adanya korban-korban tambahan, terkait investigasi atas kejahatan seksual dan perdagangan seks federal terhenti. Alhasil, pada 2008 Epstein sekadar divonis 18 bulan penjara dan membayar restitusi kepada tiga korban.
Epstein dan Intelijen
Arsip-arsip FBI mengenai Epstein yang dirilis DOJ menguak lagi beberapa layer tentang hubungan Epstein dengan intelijen asing. Beberapa pihak menganggap Epstein adalah agen atau setidaknya terafiliasi dengan KGB (Rusia) atau Mossad (Israel). Bukan tidak mungkin lantaran Epstein selama hidupnya tak tersentuh.
Ward sendiri dalam artikelnya di kolom The Daily Beast mengaku pernah mewawancara seorang mantan pejabat senior Gedung Putih pada 2017. Sumber yang tak diketahui namanya ini juga terlibat dalam pembentukan pemerintahan transisi periode pertama Presiden Trump (2017-2021).
Salah satu tokoh yang ditemui sang sumber untuk “tes kelayakan” anggota kabinet Trump adalah Acosta, jaksa Distrik Selatan Florida yang pernah menangani kasus Epstein. Acosta ketika itu “diwawancara” sang sumber untuk jabatan menteri tenaga kerja.
“’Apakah kasus Epstein akan jadi masalah (di rapat dengar pendapat dan konfirmasi)?’ katanya kepada Acosta. Acosta menjelaskan bahwa ketika itu ia hanya sekali rapat tentang kasus Epstein. Ia membuat kespeakatan non-tuntutan dengan salah satu pengacara Epstein karena ia ‘telah diperingati’ untuk mundur, bahwa Epstein berada di atas wewenangnya. ‘Saya diperingatkan bahwa Epstein adalah milik intelijen dan diperingatkan untuk meninggalkan urusannya,’ ujarnya kepada sang pewawancara di tim transisi Trump,” ungkap Ward.
Tidak menutup kemungkinan, memang. Terlebih, sebelumnya Epstein kerap berhubungan dengan para kontraktor pertahanan seperti Douglas Leese, atau Adnan Khashoggi, seorang pedagang senjata asal Arab Saudi.
Menariknya, Adnan Khashoggi masih terhitung ipar pebisnis Mesir, Mohamed al-Fayed, dan juga terhitung paman dari Dodi al-Fayed. Nama terakhir ini meninggal tragis pada 1997 dalam kecelakaan di Paris bersama Putri Diana. Adnan Khashoggi juga masih paman dari Jamal Khashoggi, jurnalis Arab Saudi yang pada 2018 dibunuh di Konsulat Arab Saudi di Istanbul oleh agen-agen yang diduga suruhan Pangeran Mohammed bin Salman.

Media massa Inggris Daily Mail dalam pemberitaannya pada Selasa (3/2/2026), “Jeffrey Epstein helped Russian spies collect blackmail ‘kompromat’ on western elites for DECADES says former MI6 agent Steele”, mengungkit klaim eks agen MI6 Inggris Christopher Steele, bahwa Epstein terafiliasi dengan KGB. Sedangkan sebelumnya, salah satu dokumen yang dirilis DOJ menengarai Epstein justru terafiliasi Mossad.
Laporan FBI dengan nomor seri “EFTA00090314” dalam dokumen yang dirilis DOJ itu memuat keterangan seorang CHS (Confidential Human Source), semacam justice collaborator, yang tak disebutkan namanya. Epstein, katanya, berhubungan dengan Mossad melalui pengacaranya, Alan Dershowitz, dan mantan Perdana Menteri Israel Ehud Barak.
“CHS saling berkomunikasi antara Dershowitz dan Epstein...setelah komunikasi-komunikasi itu, Mossad akan mengontak Dershowitz untuk menanyakan tentang komunikasi itu. Epstein dekat dengan mantan Perdana Menteri Israel, Ehud Barak dan dilatih sebagai mata-mata di bawahnya. Barak meyakini (Netanyahu) seorang penjahat. Arab Saudi, Israel, dan Uni Emirat Arab adalah sekutu menghadapi Qatar, Turki, Iran, dan Suriah. Salah satu (diblok hitam) CHS yang ditengarai bekerja (diblok hitam) bertanya banyak hal kepada CHS tentang Epstein. CHS menjadi semakin yakin bahwa Epstein adalah agen Mossad yang telah terkooptasi,” tulis laporan itu.
Maka dokumen itu juga berkaitan secara tidak langsung dengan dokumen-dokumen lain. Mengutip Euronews, Senin (2/2/2026), dokumen FBI lain yang dirilis DOJ mengungkapkan salinan surat elektronik (surel) yang terjadi pada Juli 2011, bahwa salah satu mitra Epstein mengatakan, Epstein berniat mengeksploitasi kekacauan di Libya dengan mencari dan memulihkan aset-aset Libya di negara-negara Barat senilai total 80 miliar dolar. Dalam surel itu juga disebutkan bahwa beberapa mantan agen MI6 dan Mossad bersedia membantunya menemukan dan memulihkan aset-aset itu.*









