top of page

Sri Nasti Rukmawati Mencoba Melepas Trauma 1965 dengan Suara

Di balik hingar bingar perayaan Hari Ibu, masih ada sosok-sosok yang terus berjuang untuk keluar dari kelamnya ingatan masa lalu. Sri Nasti Rukmawati salah satunya.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Sri Nasti Rukmawati berpose di depan rumahnya di kawasan Tangerang Selatan. (Fernando Randy/Historia.ID).

31 Des 2022
3 menit membaca

Diperbarui: 23 Nov 2025

SRI Nasti Rukmawati (74 tahun) tidak melupakan hari-hari setelah Peristiwa 1965. Baginya hari-hari itu adalah hari mengerikan yang selalu menghantuinya. Hari-hari yang suram itu membalik putaran roda hidupnya dan keluarganya. 

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Di usianya yang masih muda, Semaoen memimpin dan menggerakkan serikat buruh. Dia memperjuangkan pekerja tertindas dengan melancarkan pemogokan, sampai diusir pemerintah kolonial.
bg-gray.jpg
Beranjak remaja di tengah berseminya pergerakan, Semaoen “dibentuk” Sneevliet guna merintis jalan revolusioner.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah suffered a series of losses during her life. She lost four of her loved ones in a very short time.
bg-gray.jpg
Sebagai pegawai kereta api, masa depan Semaoen terjamin. Namun, dia memilih terjun ke pergerakan karena melihat ketidakadilan yang dialami rakyat jajahan.
transparant.png
bottom of page