top of page

Surat Ho Chi Minh yang Diabaikan Indonesia

Menganggap Indonesia sebagai sekutu dalam perjuangan kemerdekaan Asia Tenggara, Ho Chi Minh mengajak bekerjasama melawan kolonialisme. Suratnya bertepuk sebelah tangan.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Ho Chi Minh. (en.nhandan.com.vn).

28 Nov 2020
3 menit membaca

Diperbarui: 2 Sep 2025

HAROLD Robert Isaacs, koresponden perang Majalah Newsweek, tiba di Jakarta pada akhir November 1945. Ia datang dari Indochina membawa sepucuk surat yang kemudian diberikannya kepada Mohammad Hatta. Surat itu ternyata dari Ho Chi Minh, pemimpin Vietnam. Isinya, Ho Chi Minh mengajak agar revolusi Indonesia dan Vietnam bisa berjalan bersama.


Seperti ditulis Hanna Papanek dalam Note on Soedjatmoko's Recollections of A Historical Moment: Sjahrir's Reaction to Ho Chi Minh's 1945 Call for A Free Peoples Federation, Isaacs menyebut bahwa kala itu Vietnam membutuhkan bantuan dari luar, namun mereka tidak bisa mengandalkan Tiongkok.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
transparant.png
bottom of page