top of page

Tambora Disangka Letusan Meriam Nyi Roro Kidul

Ketika Tambora meletus, banyak orang kebingungan. Suaranya menggelegar. Tentara bergegas, mengira musuh datang menyerang.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Gunung Tambora di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, 19 Juli 2009. (earthobservatory.nasa.gov).

  • 10 Apr 2015
  • 2 menit membaca

Diperbarui: 18 Mar

GUNUNG Tambora di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, mulai meletus pada 5 April 1815. Lahar menyelimuti permukaan gunung dan bergerak menyapu desa-desa di sekitarnya. Abu vulkanik menyebar sampai Jawa Barat dan Sulawesi Selatan, diikuti hujan abu seminggu kemudian.


Kala itu, mereka yang berada di pulau lain hanya bisa bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi. Laporan dari petugas kolonial di Makassar, Maluku, dan Jawa senada menyebutkan bahwa pada 5 April 1815 terdengar suara tembakan meriam dari seberang lautan, tetapi tak diketahui dari mana asal-usulnya.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Beranjak remaja di tengah berseminya pergerakan, Semaoen “dibentuk” Sneevliet guna merintis jalan revolusioner.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah suffered a series of losses during her life. She lost four of her loved ones in a very short time.
bg-gray.jpg
Sebagai pegawai kereta api, masa depan Semaoen terjamin. Namun, dia memilih terjun ke pergerakan karena melihat ketidakadilan yang dialami rakyat jajahan.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah’s first marriage ended in tragedy. Her husband was shot and killed by Dutch soldiers. Her second spring of love unfolded with Soebadio Sastrosatomo.
transparant.png
bottom of page