top of page

Tangan Besi Daendels dalam Menjaga Ketertiban di Jawa

Daendels menggunakan kebijakan tangan besi untuk menjaga ketertiban di Jawa. Hukuman yang diberikan beragam, mulai dari pemecatan, penjara, hingga dibuang.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Potret Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels (1808-1811) dalam lukisan karya Raden Saleh. (KITLV).

3 Jul 2025
4 menit membaca

Diperbarui: 27 Des 2025

HERMAN Willem Daendels diangkat menjadi Gubernur Jenderal Hindia Timur pada 29 Januari 1807. Ia diberikan dua tugas penting oleh Raja Belanda Louis Napoleon, adik Napoleon Bonaparte, yakni mempertahankan wilayah Jawa agar tak jatuh ke tangan Inggris dan melakukan reformasi birokrasi, termasuk membenahi sistem administrasi, demi mewujudkan pemerintahan yang bersih di Hindia Timur.


Menurut Guru Besar Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, Djoko Marihandono, dalam disertasinya “Sentralisme Kekuasaan Pemerintahan Herman Willem Daendels di Jawa 1808-1811: Penerapan Instruksi Napoleon Bonaparte,” hingga saat kedatangan Daendels di Pulau Jawa, sistem administrasi pemerintahan di wilayah tersebut sangat lemah. Karena kelemahan itu, kehormatan dan kepentingan negara seringkali dikorbankan. Hal ini terlihat dari kondisi moral pegawai di berbagai dinas yang rusak akibat sistem administrasi yang ada.


Kelemahan lain para pejabat tinggi adalah sifat mudah menyetujui dan mudah mengalah. Sifat ini dianggap sebagai penghambat bagi pengawasan yang seharusnya dijalankan oleh para pejabat berwenang.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page