- 3 Mar 2025
- 6 menit membaca
Diperbarui: 29 Des 2025
PAGI 3 Maret 1942 itu, rasa lelah pilot Kapten Ivan Smirnoff (beberapa sumber menuliskan “Smirnov”) berganti lega ketika pesawat Douglas DC-3-nya sudah mencapai ruang udara Broome di Australia Barat. Penerbangan sembilan jam pesawat milik maskapai KLM bernomor registrasi PK-AFV itu dari Bandung sarat bahaya. Empat kru dan delapan penumpang yang dibawa pesawat itu –plus sebuah berlian milik perusahaan perhiasan NV De Concurrent di Bandung– pun senang.
Namun, ketika Smirnoff tengah bersiap mendaratkan pesawatnya di Bandara Broome sekira pukul 10 pagi itu, dari balik awan tetiba datang rentetan tembakan dari tiga pesawat tempur Mitsubishi A6M “Zero”. Kapten Smirnoff, veteran infantri dan pilot tempur Rusia di Perang Dunia I, pun tak bisa mengelak karena tembakannya datang dari posisi di atasnya. Mesin bagian kanan langsung terbakar. Smirnoff sendiri tertembak lengan dan pinggulnya meskipun dengan usaha ekstra keras dia mampu mendaratkan darurat pesawatnya di sebuah pantai.
“Tetapi pesawat-pesawat Zero itu masih sempat menembaki DC-3 di bibir pantai ketika para penyintasnya sedang berusaha keluar dari pesawat yang akhirnya menewaskan empat orang,” tulis Nicholas Millman dalam A6M Zero-sen Aces 1940-42.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















