top of page

Wartawan Jadi Tentara Gurkha Dadakan

Pengalaman Rosihan Anwar yang terkena apes karena kegiatan liputan di masa revolusi

loading_historia_white.gif
transparant.png

Rosihan Anwar, wartawan kawakan masa revolusi. Ilustrasi: Betaria/Historia.

13 Apr 2020
3 menit membaca

Diperbarui: 25 Jun

SETELAH menempuh perjalanan panjang, Rosihan Anwar dan Soedjatmoko tiba di Yogyakarta. Mereka baru saja selesai meliput Konferensi Malino dari Makassar. Rencananya hasil reportase itu akan disampaikan kepada Presiden Sukarno dan wakilnya Mohammad Hatta.


“Setibanya di Stasiun Tugu, Yogya, saya bergegas ke Hotel Merdeka di Jalan Malioboro, saya jijnjing kopor pakaian dan saya kepit gulungan tikar sembahyang,” tutur Rosihan dalam Musim Berganti: Sekilas Sejarah Indonesia 1925—1950. Pada waktu itu Rosihan adalah redaktur yang bernaung di bawah harian Merdeka, media berhaluan nasionalis di masa revolusi.


Menurut Rosihan keadaan di hotel kurang terpelihara karena banyak tamu yang datang silih berganti. Beruntung Rosihan masih mendapat kamar meskipun harus berbagi dengan Charles Tambu, pemimpin redaksi suratkabar berbahasa Inggris Independen. Saat itu, Charles Tambu menghindari kejaran tentara Belanda, mengungsi ke Yogya dan diperbantukan di Kementerian Penerangan. 

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
PKI memiliki tradisi intelektual yang kuat. Membawa gagasan ke tengah masyarakat melalui pendidikan dan pemberantasan buta huruf. Hasilnya menjadi salah satu partai terbesar.
bg-gray.jpg
Selama tiga dekade tinggal di Uni Soviet, Semaoen menggeluti berbagai profesi: penyiar radio, penerjemah, dosen, hingga wakil perdana menteri.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
Perayaan Imlek sempat dilarang pada zaman Belanda dan Orde Baru. Kini dirayakan dengan semarak.
Perayaan Imlek sempat dilarang pada zaman Belanda dan Orde Baru. Kini dirayakan dengan semarak.
Payung tak lagi hanya berfungsi sebagai pelindung dari hujan dan terik matahari, tetapi juga tren gaya hidup modern.
Payung tak lagi hanya berfungsi sebagai pelindung dari hujan dan terik matahari, tetapi juga tren gaya hidup modern.
Indonesia lagi-lagi hanya jadi penonton Piala Dunia. Padahal, Indonesia nyaris tampil di Piala Dunia 1958.
Indonesia lagi-lagi hanya jadi penonton Piala Dunia. Padahal, Indonesia nyaris tampil di Piala Dunia 1958.
Kota suci itu pernah merajut perdamaian antaragama di masa awal kekuasaan Arab Islam. Kini konflik peperangan mencabik-cabiknya.
Kota suci itu pernah merajut perdamaian antaragama di masa awal kekuasaan Arab Islam. Kini konflik peperangan mencabik-cabiknya.
Untuk kali kedua, Indonesia Week promosikan beragam budaya Indonesia. Bertepatan dengan enam dekade hubungan Indonesia-Jepang.
Untuk kali kedua, Indonesia Week promosikan beragam budaya Indonesia. Bertepatan dengan enam dekade hubungan Indonesia-Jepang.
Dari Korea Utara hingga Maroko. Mereka tim-tim yang disepelekan yang justru jadi batu sandungan bagi para favorit juara.
Dari Korea Utara hingga Maroko. Mereka tim-tim yang disepelekan yang justru jadi batu sandungan bagi para favorit juara.
transparant.png
bottom of page