top of page

Affandi yang Tak Pernah Pergi

Menyapa Affandi lewat pameran luring di kala pandemi. Sebuah upaya untuk memperkenalkan sang maestro lukis kepada generasi masa kini.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Pameran karya-karya Affandi di Galeri Nasional Indonesia. (Fernando Randy/Historia.ID).

23 Nov 2020
2 menit membaca

Diperbarui: 19 Feb

GALERI Nasional Indonesia di Jakarta menggelar pameran luar jaringan (luring) pertama sejak pandemi Covid-19 melanda. Tak tanggung-tanggung, pameran ini menyuguhkan karya-karya sang maestro seni lukis Indonesia, Affandi Koesoema. Pameran ini berlangsung hingga 25 November 2020. 


Affandi, begitu dia lebih dikenal, punya masa lalu yang unik. Dia semula bekerja sebagai tukang sobek karcis bioskop sekaligus pembuat gambar reklame di papan bioskop kawasan Bandung. Kemudian dia bergabung dengan kelompok Lima Bandung, yang terdiri dari Hendra Gunawan, Barli, Sudarso, dan Wahdi pada 1930-an. Semuanya pelukis dan senang belajar bersama antar pelukis secara informal.  

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page