- Petrik Matanasi
- 17 Nov 2025
- 3 menit membaca
Diperbarui: 18 Nov 2025
SUKSES sebagai penyanyi tak menjadikan Anne Gronloh jemawa. Dirinya tak mau melupakan kampung leluhurnya. Lika-liku kehidupannya tak bisa dilepaskan dari keluarganya yang asal Minahasa.
Peradaban Minahasa tumbuh di daerah Tondano, Sulawesi Utara yang terkenal dengan danaunya. Sebagai daerah subur nan cantik, Tondano menarik banyak orang untuk mengunjunginya. Termasuk orang-orang Belanda yang tergabung dalam Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC).
Kedatangan VOC, yang ingin memonopoli perniagaan rempah di berbagai daerah Nusantara, memantik ketegangan dengan penduduk setempat. Muaranya, sedari 1661-1664 timbul perang antara orang Minahasa melawan VOC (Perang Tondano I). Perang antara orang Belanda dengan orang Minahasa muncul lagi pada 1808–1809 (Perang Tondano II).
Setelah Belanda menguasai wilayah Tondano dan hampir seluruh Sulawesi, wilayah tersebut dipertahankan oleh tentara kolonial Koninklijk Nederlandsch Indische Leger (KNIL). Jauh setelah Belanda berkuasa dan kekuasaannya terancam Perang Asia Timur Raya, maka Garnisun KNIL Sulawesi Utara berusaha mempertahankan daerah tersebut. Pada 10 Januari 1942, tulis R. Djajusman dalam “Sedjarah Perang Jepang Melawan Hindia Belanda VII” di Majalah Sedjarah Militer Angkatan Darat Nomor SA-16 Tahun 1964, tentara Jepang mendarat di Manado. Esok siangnya, tentara Jepang sudah bergerak memasuki pedalaman Minahasa. Sekitar pukul 18.00 tanggal 11 Januari 1942, tentara Jepang telah mencapai Tondano.
Tentara Jepang berhasil membuat pasukan KNIL terpojok. Tidak bisa membalikkan keadaan, tentara Belanda hanya bisa bergerilya. Akhirnya, beberapa perwira KNIL dan pejabat sipil dari Departemen Dalam Negeri menyerah di Manado pada 23 Maret 1942.
Setelah menduduki Sulawesi Selatan, tentara Jepang menawan banyak orang Belanda. Salah satunya Sersan Satu Stephanus Bastian Gronloh. Menurut kartu tawanan perangnya, pria kelahiran 16 Januari 1919 ini berasal Den Haag dan bertugas di garnisun Sulawesi Utara sebelum ditawan. Bastian lalu ditawan sampai di Kamp Fukuoka, Japang. Sebagai tawanan, Bastian jelas harus berpisah dari Femmy Rorora istrinya yang tengah hamil beberapa bulan.
Femmy sendiri ditahan sejak Febrauri 1942. Dalam keadaan ditawan itulah pada 7 Juni 1942 Femmy melahirkan seorang bayi perempuan yang dinamainya Johanna Louise Grönloh. Algemeen Dagblad tanggal 18 Mar 1961 menyebut, anaknya itu sempat dipanggil Yokko Tjang, yang diartikan Si Kecil.
Setelah perang berakhir pada 1945, Femmy dan anaknya yang sudah berumur 3 tahun itu bebas. Keduanya akhirnya akhirnya bisa berkumpul kembali dengan Bastian. Namun ketika Bastian datang, dirinya yang merasakan kekejaman di kamp tawanan Jepang tak suka nama Yokko Tjang. Maka nama itu pun diganti dan selanjutnya nama Anneke dijadikan sapaan untuk Johanna Louise Grönloh.
Pada 1946, Femmy dan Anneke ke Negeri Belanda. Mereka setahun berada di Belanda sebelum kembali ke Indonesia. Sempat tinggal di Makassar, mereka kemudian pindah lantaran kota itu tidak benar-benar aman bagi orang yang bekerja untuk Belanda.
Bastian sendiri meneruskan karier militernya, sampai pernah hampir mati ketika ada musuh Belanda datang. Pada 1949, Anneke akhirnya punya adik bernama Tjula. Keluarga itu kemudian hijrah ke Negeri Belanda.
Ketika umur Anneke empat tahun, dia sudah bisa bernyanyi ketika ditaruh di atas meja. Di usia belasan tahun, gadis dengan tinggi 168 dan berat badannya masih 57 kg itu sudah terkenal. Sebelum benar-benar menjadi penyanyi profesional, Anneke pernah menjadi juru ketik steno sebelum masuk dunia rekaman.
Di awal kariernya, Anneke bernyanyi dalam bahasa Inggris, Belanda ,dan Melayu Pasar. Anneke pernah rekaman lagu “Asmara”, “Deri Ketjil”, “Boeroeng Kaka Toea”, “Bengawan Solo”, juga “Nina Bobo”. Pernah pula dia rekaman lagu “Indonesia Ik Hou Van Jou” yang berasal dari lagu “Rayuan Pulau Kepala” karya Ismail Marzuki.
Dengan lagu-lagunya yang populer di Indonesia membuat nama Anneke tak hanya terkenal di Belanda, tapi juga sampai ke Indonesia. Setelah Anneke sukses menjadi penyanyi, Femmy sempat pulang ke Tondano.
“Sebelum perang, kota ini adalah kota liburan, tapi sekarang seperti desa tua yang ditinggalkan,” kata perempuan kelahiran 1912 itu di Het Parool tanggal 14 Januari 1965.
Ketika Femmy berkunjung ke sana, nenek Anneke Gronloh masih hidup di Tondano. Usia neneknya ketika itu 82 tahun.*












Komentar