- 7 Sep 2023
- 3 menit membaca
Diperbarui: 19 Jun
HINDIA Belanda menjadi tempat yang diimpikan banyak pria Belanda untuk mengubah nasib. Di tanah subur nan kaya yang diperintah “kaki-tangan” ratu Belanda itu, kehidupan sejahtera jauh lebih mungkin diwujudkan ketimbang di negeri asal mereka, Belanda. Terlebih, warna kulit putih mereka memungkinkan mendapat keistimewaan-keistimewaan yang tidak didapatkan orang-orang kulit berwarna akibat sistem rasis yang diterapkan pemerintah Hindia Belanda.
Faktor itulah yang mendorong Willem van Osch yang lahir pada 19 Juni 1910 rela bertaruh nyawa mengarungi samudera ribuan kilometer jauhnya demi bisa mencapai Hindia Belanda. Pria asal Rosmalen, Belanda ini kemudian menjalani kehidupan berbeda di tempat yang baru. Dia diterima menjadi tentara kolonial Koninklijk Nederlands-Indische Leger (KNIL). Pangkatnya sudah sersan mayor (serma) infanteri, dengan nomor stamboek-nya 89068.
Di Hindia Belanda pula Willem menemukan jodoh dan berkeluarga. Koran De Locomotief, 24 Januari 1936 memberitakan, Willem van Osch menikah di Magelang –kota tangsi bagi KNIL– pada 22 Januari 1936 dengan Johanna Bojoh. Johanna merupakan gadis berdarah Sunda dan Manado. Staatsblad van het Koningrijk der Nederlanden, 1974, no. 1-101, 01-01-1974, menyebut Johanna lahir di Kotaraja (kini Banda Aceh) pada 10 Desember 1915. Pasangan Willem-Johanna menganut agama Katolik Roma. Mereka dikaruniai anak laki-laki bernama Willem Charles van Osch sebelum tentara Jepang datang.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















