top of page

Bau Kolonial Istana Kepresidenan Jakarta

Istana Negara mulanya rumah peristirahatan yang dibeli pemerintah kolonial Belanda untuk kediaman gubernur jenderal. Sementara Istana satu lagi, meski bau kolonial, tetapi diberi nama Istana Merdeka.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Seorang petugas berjaga di depan Istana Merdeka sekitar tahun 1920. Di masa lalu, bangunan yang digunakan sebagai kediaman gubernur jenderal itu dikenal dengan nama Koningsplein Paleis. (KITLV).

20 Agu 2024
3 menit membaca

Diperbarui: 27 Jul

ISTANA Kepresidenan Jakarta dan Bogor menjadi sorotan setelah Presiden Joko Widodo menyampaikan bahwa dia merasakan bau-bau kolonial di kedua istana tersebut. Sebelum menjadi tempat tinggal resmi presiden Indonesia dan tempat berlangsung berbagai kegiatan kenegaraan, bangunan yang didirikan pada zaman kolonial Belanda itu telah lebih dulu dimanfaatkan sebagai kediaman gubernur jenderal.


Gedung Istana Negara, yang didirikan tahun 1796 mulanya digunakan sebagai rumah peristirahatan Jacob Andries van Braam, seorang pejabat yang dikenal dekat dengan Herman Willem Daendels (Gubernur Jenderal Hindia Belanda 1808–1811) dan pernah menjadi residen di Solo. Puluhan tahun berselang, bangunan tersebut dibeli pemerintah kolonial pada 1821 untuk dijadikan tempat kediaman gubernur jenderal ketika tengah melakukan perjalanan ke Batavia untuk menyelesaikan urusan bisnis, menghadiri audiensi maupun perayaan-perayaan penting.


Menurut sejarawan Adolf Heuken SJ dalam Tempat-tempat Bersejarah di Jakarta, kala itu kediaman resmi gubernur jenderal adalah Istana Bogor. “Rumah van Braam atau Istana Rijswijk dipilih untuk kepala koloni, karena istana Daendels di Lapangan Banteng belum selesai. Setelah gedung itu diselesaikan, digunakan bagi kantor-kantor pemerintah saja,” tulis Heuken.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
transparant.png
bottom of page