Diperbarui: 27 Jul
ISTANA Kepresidenan Jakarta dan Bogor menjadi sorotan setelah Presiden Joko Widodo menyampaikan bahwa dia merasakan bau-bau kolonial di kedua istana tersebut. Sebelum menjadi tempat tinggal resmi presiden Indonesia dan tempat berlangsung berbagai kegiatan kenegaraan, bangunan yang didirikan pada zaman kolonial Belanda itu telah lebih dulu dimanfaatkan sebagai kediaman gubernur jenderal.
Gedung Istana Negara, yang didirikan tahun 1796 mulanya digunakan sebagai rumah peristirahatan Jacob Andries van Braam, seorang pejabat yang dikenal dekat dengan Herman Willem Daendels (Gubernur Jenderal Hindia Belanda 1808–1811) dan pernah menjadi residen di Solo. Puluhan tahun berselang, bangunan tersebut dibeli pemerintah kolonial pada 1821 untuk dijadikan tempat kediaman gubernur jenderal ketika tengah melakukan perjalanan ke Batavia untuk menyelesaikan urusan bisnis, menghadiri audiensi maupun perayaan-perayaan penting.
Menurut sejarawan Adolf Heuken SJ dalam Tempat-tempat Bersejarah di Jakarta, kala itu kediaman resmi gubernur jenderal adalah Istana Bogor. “Rumah van Braam atau Istana Rijswijk dipilih untuk kepala koloni, karena istana Daendels di Lapangan Banteng belum selesai. Setelah gedung itu diselesaikan, digunakan bagi kantor-kantor pemerintah saja,” tulis Heuken.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.












